Wilujeung Sumping

Assallamu allaikuum...
semoga rahmat dan berkah Allah tercurah untuk Rasulullah, keluarganya, sahabat-sahabatnya dan kita semua sebagai umatnya...

Selasa, 26 Februari 2013

bagian ketiga dari TTC3





Tiga
Bismillahirrahmaanirraahiim, kami datang Yaa Rabb....


Bandara Soekarno Hata, akhir Oktober 2010
Saat matahari bersinar redup....



”Diberitahukan kepada seluruh jamaah haji kelompok terbang 38 asal pendaftaran Provinsi Jawa Barat, agar bersiap menuju pintu keberangkatan pesawat. Kepada para Karom dan Karu agar mengkoordinir anggotanya dengan cepat. Pesawat Saudi Arabia Airlines telah siap di pintu III, keberangkatan. Diingatkan kembali kepada.....” demikian informasi yang terus bergema di telinga kami, membuat kami semua agak tergesa-gesa merapihkan semua barang bawaan. Tas jinjing, tiket, pasport dan beragam kelengkapan lainnya.
Tua muda, perempuan laki-laki, semua terhanyut dengan segala persiapan pemberangkatan ini. Ada   yang sibuk berbenah dengan bawaannya, ada yang terlihat cemas, namun ada pula  yang terlihat santai dengan dzikir lirihnya. Untuk yang sibuk berbenah biasanya kaum ibu yang selalu saja masih menunjukan sikap telatennya. Mungkin bagi mereka pengabdian terbaik pada seorang suami memang tanpa batasan waktu dan tempat, hingga di moment sesakral itu mereka masih sempat meladeni sang suami dengan beragam  barang bawaan. Dari obat-obatan yang biasa dikonsumsi suaminya, hingga perlengkapan pribadi lainnya.
Bagi yang terlihat tenang biasanya  mereka yang sudah sering berpergian dengan pesawat dan memahami betul arti keikhlasan dalam perjalanan ini, sehingga sudah sangat siap secara mental, fikir dan ikhtiar. Sehingga ketenangan mereka terlihat begitu alami dengan balutan dzikir lirih mereka. Untuk yang cemas, biasanya mereka yang belum pernah merasakan terbang jauh dengan pesawat. Meski tangan mereka sibuk memilin tasbih namun raut kecemasan masih terlihat diantara mereka. Dan salah satu dari mereka itu adalah lelaki tua yang ada disampingku ini, terlihat sekali kalau ia benar-benar    mencemaskan    pengalaman yang sangat baru baginya. Kalau aku harus jujur, sebetulnya juga termasuk aku. Betapa tidak kecelakaan pesawat khan sering terjadi belakangan ini. Namun aku menekan kuat-kuat rasa cemas itu dengan berdzikir khusyu. Selain   gemetar lembut masih menari di hati ini, aku juga sebenarnya masih merisaukan    rasanya berada di ketinggian ribuan kaki dengan waktu tempuh delapan jam lebih? apa yang harus aku lakukan bila pesawat mengalami turbulency? Bagaimana kalau tiba-tiba aku mabuk ketinggian? Yaa Allah bantu aku mengatasi ini...
”Baru pertama naik pesawat ya Pak?” seseorang menegur lelaki tua disampingku  ramah.
Lelaki tua itu tersenyum mengangguk mewakilkan jawabanya. Kemudian malu-malu iapun mulai menyampaikan kecemasannya.
”Santai aja pak, seperti naik ayunan. Setelah beberapa detik juga kita akan terbiasa dan seperti naik kendaraan biasa....,” pramugari berkerudung biru langit ini nampak membaca betul kecemasan hati kami.  Mungkin karena ia sudah kerap menemukan hal ini di perjalan tugasnya bolak-balik Jakarta-Medinah, atau Jakarta-Jedah.
”Kalau di bimbingan kemarin sih katanya memang begitu, tapi khan tidak sampai naik pesawat beneran,”kata lelaki tua ini menahan cemas dan malu.
”Ngga akan ada apa-apa, Insya Allah...,” perempuan berseragam maskapai penerbangan kelas satu di Arab Saudi itu   kembali meyakinkan lelaki tua ini.
Tak banyak percakapan setelah itu, karena suara operator pesawat  langsung mengingatkan kami untuk bersiap take off. Dengan tiga bahasa yakni Arabian, Inggris dan Indonesia, operator kabin pesawat nampak menjelaskan waktu yang akan ditempuh dan beragam standar keselamatan penumpang. Sambil mendengarkan arahan tiga bahasa, masing-masingdari kami memperhatikan dengan serius layar 12 inci yang ada di bagian belakang tempat duduk kami. Layar itu memvisualisasikan apa saja yang tengah di jelaskan oleh operator kabin.
Barisan bangku berwarna abu-abu dari maskapai penerbangan terbesar negeri padang pasir ini   terlihat begitu rapi di sepanjang mata memandang. Kondisinya yang nyaman dan sejuk membuat kami sejenak terlepas dari kepenatan dan kecemasan. Ditambah beberapa pramugari yang tersenyum menyambut kami, seakan benar-benar merilekskan sesaat. Senyum yang ramah dan tulus untuk perjalanan suci kami.
”Demikian standar keselamatan penumpang ini. Semoga Allah meridhoi perjalanan kita. Selamat menjalankan ibadah haji dan semoga menjadi haji yang mabrur. Assallamu allaikum...,” demikian ending dari suara operator kabin.
Satu persatu   kamipun mulai terlena di kursi-kursi empuk sesuai dengan nomor tiket kami masing-masing. Kondisi lelah dan penat membuat kami semuanya ingin segera beristirahat dengan tenang. Aku mendapatkan posisi tengah dari badan pesawat Airbus ini , tepat di samping jendela dan bertiga dengan pasangan suami isteri.  
”Maaf De, kita nanti langsung berhenti di Madinah atau  transit dulu di Jedah yaa?” tanya ibu paruh baya disampingku dengan kaca mata tebalnya.
”Kurang tahu Bu, cuma kalau saya lihat di tiket tujuan kita memang ditulis Medinah, jadi apa langsung berhenti di situ atau kita transit dulu di Jedah” kataku mencoba mengingat potongan tiket yang baru saja aku berikan pada pramugari penjaga pintu masuk.
”Berarti memakan waktu 9 jam lebih yaa...” perempuan paruh baya itu bergumam.
”Tuh khan Bu, kata Bapak juga lebih baik ke toilet dulu,” sambung lelaki yang duduk disampingnya, ”apa Ibu sanggup menahan pipis selama itu?”
Mendengar itu sang ibu mendadak merona wajahnya menahan malu, sementara aku berusaha keras untuk bisa menahan tawa. ”Memangnya Ibu ingin buang air?” tanyaku.
”Iya Nak, tadi Ibu sebetulnya ingin ke toilet dulu, tapi karena takut ketinggalan jadi ibu tahan sampai sekarang...”
”Ada yang bisa saya bantu Bu?” suara seorang pramugari terdengar disamping kami. Mungkin karena ia melihat kecemasan kami.
”Iya Mbak, ibu ini mau buang air kecil...” kataku menjawab pertanyaannya.
”Ooh, mari saya antar,” kata pramugari itu kemudian,” di pesawat ini juga ada toilet Bu...”
Perempuan paruh baya itupun akhirnya beranjak dari tempat duduknya setelah terlebih dahulu melewati kursiku. Tak berapa lama iapun  kembali ke kursinya yang berada tepat di sisi jendela. Namun selang hanya beberapa detik, ia kembali beranjak ke toilet dengan tergesa-gesa. Rupanya rasa cemas itu membuahkan stress ringan, sehingga harus buang air kecil beberapa kali. Dikarenakan hal itulah akhirnya suami perempuan ini memintaku untuk bertukar kursi dengan isterinya. Ini dimaksudkan agar ia tak bolak balik melangkahiku, bila ingin buang air kecil.
”Tolong Dek ya..” pintanya padaku.
”Ngga apa-apa Pak, biar saya yang di ujung, dekat jendela,” kataku seraya menggeser tempat duduku di posisi dekat jendela. Dan itu berarti aku   bisa melihat bagian sayap dan kondisi luar dari pesawat ini. Aku tak tahu apa yang kurasakan saat itu, yang jelas aku sedikit bingung   membayangkan bagaimana rasanya berada di ketinggian nanti.
”Mohon perhatian,” suara operator terdengar berbarengan dengan berdirinya dua pramugari berkerundung biru di tengah selasar pesawat ini, ”sebentar lagi pesawat akan segera berangkat. Kami berharap bapak ibu sekalian mematuhi apa yang baru saja di sampaikan oleh visualisasi operator kabin, untuk tetap duduk di tempat masing dan mengencangkan seat belt-nya....”
Tak lama kemudian, terdengar kembali suuara operator itu menuntun kami untuk membaca doa bepergian ketika pesawat sudah mulai bergerak perlahan...
”Bismillahi majraha wa mursoha innarabbi laghofurrahiim...”
Perlahan-lahan pesawatpun mulai bergerak menuju landasan pacu, deru mesin pesawat inipun seolah seirama geletar lembut di hati kami semua. Berbalut dzikir dan talbiah, rombongan jamaah asal Kota Cirebon itupun mulai meniti perjalanan sucinya. Hati kami semua terus berdzikir dan melafadzkan syukur atas anugerah yang tengah Allah limpahkan dalam hidup kami. Tak jarang dzikir khusyuk dari mulut kami bercampur pula dengan isak haru mengawali keberangkatan kami.
Labbaik Allahumma labbaik... Innalhamda, wal nikmata, lakawalmulk laa syarrikalla....”
”Kami datang yaa Allah... kami datang memenuhi kewajiban kami, memenuhi panggilan-Mu, menjadi tamu-Mu..., ridhoi langkah kami yaa Robb...,” geletar syukur terlafadz di hatiku menanti hal terindah dan teragung sepanjang hidupku.
”Bismillahirrahmaanirraahiim.... kami datang Yaa Robb...”

*********

Tidak ada komentar:

Posting Komentar