Wilujeung Sumping

Assallamu allaikuum...
semoga rahmat dan berkah Allah tercurah untuk Rasulullah, keluarganya, sahabat-sahabatnya dan kita semua sebagai umatnya...

Senin, 25 Februari 2013

bagian kedua TTC3



Dua
Awal Talbiah Cintaku pada-Mu, Yaa Rabb....


Lapangan Penggung, Cirebon


            Semua pengantar yang datang saat itu tumplek di lapangan udara Penggung, lapangan udara domestik di kota Wali ini. Beragam kendaraan dari berbagai merk dan kondisi menyatu dan berebut untuk bisa parkir dan menghantarkan kepergian anggota keluarga mereka. Tidak terkecuali keluargaku, dengan mobil carry sewaan, kami duduk bertumpukan di ruangan mobil yang sebenarnya hanya maksimal diisi delapan orang itu. Beberapa ipar dan tetanggaku malah berkonvoi dengan motor bebek, mereka tak ingin ketinggalan untuk melepasku ke embarkasi, Bekasi.
            Sebetulnya hanya satu orang anggota keluarga yang diperkenankan masuk dan menghantarkan kami yang akan berangkat haji, di lapangan Penggung ini. Namun entah bagaimana awalnya, aturan itu jadi tak berlaku, ketika hampir setiap anggota keluarga memaksa untuk masuk. Beberapa diantara mereka malah sampai beradegan tangis penuh histeris untuk bisa masuk ke dalam. Jadilah lapangan penggung yangtak seberapa luas itu penuh sesak dengan para keluarga jamaah. Jumlah jamaah haji yang akan berangkat sendiri, pada tahun ini hanya 318 orang, tak sampai satu kloter. Namun karena para penghantar masing-masing jamaah bisa mencapai sepuluh, jadilah jumlah jamaah dan penghantar melebihi seribu dua ratusan atau tiga kloter lebih.
            Keluargaku sendiri lebih dari sepuluh orang, ada kelima kakak-kakaku, bapak, bapak-ibu mertuaku, serta beberapa iparku yang mendampingiku sejak keluar rumah ba’da isya tadi. Pandangan mereka terlihat begitu haru, entah apa yang ada di fikiran mereka. Mungkin gembira, karena akhirnya aku akan berangkat haji tahun ini, atau mungkin juga sedih, karena di keberangkatnku ini, tak banyak bekal yang bisa mereka berikan untuku. Setahu mereka aku memang hanya memegang satu juta rupiah saja, sisa pembayaran ongkos haji. Anak dan isteriku tak menyertaiku di arena pemberangkatan saat itu. Dengan berbagai pertimbangan anak-anaku, isteriku   hanya melepasku sampai depan rumah saja. Ia khawatir tangisan dan rontaan anak-anaku akan mengganggu perjalananku.
”Selamat jalan Yah, tunaikan ikhtiar cinta Ayah. Kami akan berdoa dan menanti Ayah kembali dengan selamat...” ucapnya untuk terakhir kali padaku.
”Iya sayang, insya Allah, Ayah akan kembali dengan selamat. Jaga anak-anak, Bunda...,” jawabku seraya mengecup keningnya, ”Ayah sayang Bunda. Ayah berangkat...”
  Seluruh jamaah dan penghantar telah memadati pelabuhan udara kecil di kota Cirebon, ketika waktu menunjukan pukul sembilan tepat. Menurut jadwal, kami memang akan diberangkatkan ke embarkasi, Bekasi pukul sembilan tepat. Sembilan bus yang telah dinomori juga sudah penuh dengan beragam barang bawaan dan tas tentengan kami. Aku mendapat bus nomor dua, mungkin karena sebenarnya aku keberangkatanku yang tertunda di tahun kemarin, sehingga aku berada di urutan awal-awal.
Satu jam berlalu dari pukul sembilan. Jadwal keberangkatanpun mulai meleset dari jadwal yang ditentukan. Entah apa yang membuat panitia menunda keberangkatan kami. Kondisi yang demikian membuat kami para jamaah gelisah dan turun kembali dari bus yang kami tumpangi. Seketika kamipun mengulangi acara tangis perpisahan di bawah kendaraan. Mbak Atin yang sembab menahan haru, Mbak Puji yang terus terisak, atau Mbak Kartini yang sesegukan karena merasa tak lagi bisa menyuguhkan   sajian makanan untuku. Setiap pulang ke Cirebon, ia memang paling rajin mengurusi sajian makanku. Meskipun terkadang ada isteriku, ia kerap melakukan itu. 
”Jam berapa sih berangkatnya, Rist?” tanya Mas Adi menahan jengah.
”Katanya jam sembilan, Mas. Ngga tahu kenapa belum di lepas juga...”
”Menurut panitia, masih menunggu kedatangan Bapak Walikota,” ucap Om Budi yang datang dengan kamera sakunya. Hoby barunya memang seperti wartawan, mengambil gambar di setiap momen. Mungkin bakat terpendamnya juga di situ.
”Tapi ini sudah lebih dari jam sepuluh, mau jam berapa bus-bus ini diberangkatkan?” Mas Adi terlihat kesal. Aku tahu, ia bukan kesal karena harus lama menungguiku, akan tetapi ia memang menginginkan agar aku segera melewati proses perpisahan seperti ini. Bagi kami, keluarga yang biasa-biasa saja, menunaikan ibadah haji adalah hal yang sangat luar biasa. Beragam cerita dan kisah tentang perjalanan suci ini memang memberikan kekhawatiran tersendiri. Bukan saja agenda kegiatan dan kondisi alam Arab yang sangat keras, tapi juga karena kepergianku yang sedikit sekali membawa bekal.
”Nanti juga khan ada living cost, Mas...,” kataku saat kami membahas hal ini.
”Tapi living cost yang akan diterima itu hanya 1500 SR Rist, kita belum tahu kondisi harga dan kehidupan di sana. Bagaimana kalau sampai di sana ternyata kamu kekurangan bekal...,” Mbak Puji berucap penuh khawatir.
”Insya Allah cukup Mbak, 1500 SR itu khan hampir sama dengan Rp. 3.750.000 Mbak,” ucapku mencoba mengkalkulasi kurs Saudi Real ke rupiah.
”Tapi yang Mbak dengar, di sana khan mahal-mahal Rist, uang segitu apa cukup untuk 40 hari hidup di sana?” suara Mbak Atin terdengar lebih nelangsa. Mereka semua memang terlihat begitu khawatir, uang yang mereka kumpulkan secara patungan, memang hanya cukup untuk melunasi ongkos naik hajiku. Sedangkan bekalku berangkat malam ini hanya mengandalkan simpanan dari isteriku dan bantuan seadanya  dari mertuaku. Banyak harapan yang mereka titipkan untuk kepergianku berhaji tahun ini. Serangkaian hajat dan doa juga terekap penuh di buku kecil yang sengaja aku bawa.
”Insya Allah, Allah akan mencukupi kebutuhan Harist, Mbak. Semuanya tidak perlu khawatir seperti itu,” ucapku untuk menenangkan mereka semua.
Dari sekian banyak kekhawatiran yang ditunjukan kakak-kakaku,  memang Mas Adi yang terlihat begitu terpukul. Karena sebelum keberangkatanku, ia memang seringkali meminjam uang kepadaku. Ia begitu menyesal tak jua bisa mengembalikan pinjaman itu, justru ketika aku begitu membutuhkannya.
”Tidak usah terlalu difikir Mas, insya Allah, Allah akan memudahkan semuanya ini,” ucapku pelan ketika Mas Adi menyampaikan penyesalanya. Oleh karena itulah, berlama-lama menatapku yang akan pergi ke embarkasi ini, makin membuatnya merasa  bersalah.
”Bagaimana sudah ada kabar apa dari panitia?” seorang lelaki berperawakan gemuk nampak berucap pada salah satu rekannya. Seingatku ia ketua rombongan kami. Sejak manasik dulu, ia memang terlihat begitu repot mengurusi dan mengomandoi kami.  Namanya Djaja Suryaatmaja, pegawai PTP. Rajawali ini memang terlihat begitu antusias dan berpengalaman dalam hal ini. Tahun ini memangkali kedua baginya berangkat ibadah haji.
”Belum, Pak,” jawab seorang lelaki tinggi berkacamata. Dia ini Pak Edi Sutisna, jabatannya ketua reguku. Penampilannya yang kalem dan sedikit bicara ini juga senantiasa bertanggung jawab terhadap tugas yang diembanya pada kelompok kami. ”Menurut informasi, Pak Walikota masih dalam perjalanan dari Balaikota menuju kemari, jadi sekitar setengah jam-an kalau tidak macet...”
”Ya sudah, yang penting semua anggota kita, Rombongan 2 harus tetap berada dekat bus No. 2, jadi kalau sekali waktu pemberangkatan dimulai, tidak ada lagi yang tertinggal.”
”Baik Pak, saya akan sampaikan pada ketua-ketua regu yang lain...”
Waktupun beranjak makin malam, kini hampir jam sebelas malam, pimpinan daerah para wali ini ternyata belum hadir juga. Upacara pelepasan jamaah haji kloter 38 dari Kota Cirebon inipun makin ngaret dari yang di jadwalkan. Semua jamaah dan para penghantar sudah mulai gelisah dan mulai dengan kalimat tak puas mereka. Semuanya berucap tak senang dengan keterlambatan Pak Walikota.
”Sabar, khan kita sudah dilatih ini sejak manasik. Ini belum seberapa, di Arab nanti kita akan dituntut lebih sabar lagi lho,” Pak Djaja, Karom 2 mulai dengan petuahnya. Memang menggerutupun tidak akan langsung membuat upacara pelepasan ini akan dipercepat. Jadi dari pada bikin hati makin gelisah mending sabar dan memanfaatkan untuk bercengkerama kembali dengan keluarga dan penghantar.
Seperti keluarga yang lain, akupun memanfaatkan waktu pelepasan yang mundur dari jadwal ini untuk kembali berakrab-akrab dengan saudara-saudaraku. Mengingat aku akan pergi cukup lama, dan yang pasti banyak yang bilang pergi haji hampir sama dengan berjihad! Jadi siap datang kembali juga siap untuk menerima tak kembali lagi. Setidaknya itu yang sedikit merisaukan saudara-saudara perempuanku. Mata mereka seolah tak habis menderaikan bulir beningnya. Mbak Kartini, Mbak Atin, atau Mbak Puji, sama saja. Ketiganya paling gampang berkaca-kaca dan menangis tersedu-sedu.
Entah karena itu atau memang rasa haru yang sedemikian dalam, tiba-tiba Mbak Puji menangis seraya memeluku. Suaranya sesegukan seperti tercekat oleh kondisi yang begitu memilukan. Melihat itu Bapak melerainya dengan mengatakan bahwa aku pasti kembali lagi dengan selamat. Jangan terlalu berlebihan untuk melepaskan anggota keluarga yang akan pergi ’berjihad’.
Sesaat isak Mbak Puji mereda, dan melepaskan pelukanya. Namun sikapnya mendadak jadi aneh, ia celingukan ke arah belakangku. Ia seolah mencari seseorang dari arah belakangku. Melihat itu, akupun mengikuti arah matanya dan memeriksa bagian arah belakangku. Tidak ada siapa-siapa! Hanya bus bernomor 2 yang akan memberangkatkan aku ke embarkasi.
Angji ndeleng Mimi ning arepe bis...,”[1] ucap Mbak Puji di sela isaknya.
Kontan kami semua menajamkan pandangan dan melihat sekeliling kami. Tak ada siapa-siapa. Hanya kerumunan jamaah dan keluarganya. Satupun juga tak ada yang mirip dengan ibuku.
”Mbak lihat Mimi dimana?” tanyaku penasaran.
”Tadi di belakangmu, tepat di depan bus nomor dua itu, Mimi tersenyum dan melambai ke arah kita,” ucap Mbak Puji serius di sela isaknya yang masih tersisa. Mungkin karena itu, ia tiba-tiba mendadak menangis dan memeluku. Mungkin saja hanya ilusi, tapi apa yang dilihat Mbak Puji bisa saja benar-benar ibuku. Dengan izin-Nya, ibu sengaja datang dan menghantarkan aku berhaji.
Aku jadi teringat angin dingin semilir yang menerobos persendianku ketika aku berpamitan di sore kemarin. Suasana pemakaman Tedeng memang selalu sepi jika bukan musim ziarah. Namun angin yang menelusur begitu dingin itu seakan membelai dan mendekapku. Mungkinkah sejak kemarin sore, ibu memang tengah berada di sekitarku. Yaa Allah, andai memang Engkau memberikan izin almarhumah ibuku untuk mendampingi kepergianku ini, semoga Engkau juga ridho dengan ikhtiar cintaku untuknya....
”Sudah, mungkin kamu salah liat Ji,” Bapak mencoba mengendalikan keadaan agar kami tak terjebak dengan emosi masa lalu. Namun meski hampir semua saudaraku bisa menerima arahan Bapak, aku tetap menatap berkeliling dan mencari sosok ibuku. Mungkinkah aku akan menjumpainya seperti pada mimpi-mimpiku kemarin. Yaa Allah, muliakan wanita yang telah melahirkan dan membesarkan aku...

Suara vooreijder  bergema memenuhi jalanan yang menjadi akses lapangan Penggung. Di belakangnya nampak mobil dinas warna hitam yang bergerak melaju di jalanan yang macet dengan ribuan penghantar jamaah. Mungkin ini iring-iringan orang yang paling ditunggu pada prosesi pelepasan jamaah haji kloter 38 Kota Cirebon. Seorang lelaki berperawakan sedang nampak keluar dari mobil yang dikawal ketat itu. Dialah Walikota yang telah memimpin kota udang ini selama dua periode. Di tangannyalah harapan Sunan Gunung Jati untuk mengurus tajug dan fakir miskin di pusat penyebaran islam tempo dulu ini, berada. Sebagai putra daerah yang lahir dan besar di tatar para Waliyullah ini, akupun berharap kalau orang nomor satu di Kota Cirebon ini dapat membawa Cirebon pada tingkat kemajuan dan kemapanan. Cukup sandang dan pangan bagi para fakir miskinnya, juga terawat semua tajug, mushola dan mesjid yang ada di dalamnya.
Prosesi pelepasan jamaah haji Kota Cirebon tak memakan waktu lama, tidak lebih dari setengah jam saja. Hingga tepat pukul dua belas roda kendaraan bus yang beriringan ini mulai bergerak meninggalkan lapangan Penggung. Dilepas oleh senyum dan tangis haru para penghantar, kamipun mulai bergerak ke arah jalan Tol untuk menuju Pantura. Dari sana kami akan terus ke asrama haji, Bekasi dan terus ke embarkasi.
Dari detik pertama roda bus ini berputar, terdengarlah suara pembimbing ibadah haji kami melafadzkan doa berpergian. Dengan serta merta kamipun mengikuti secara berjamaah sebagai tanda perjalanan haji kami di mulai. Selepas doa hendak berpergian tanpa henti kamipun mulai bertalbiah di sepanjang perjalanan dari Lapangan Penggung menuju Pantura ini.
Inilah awal talbiah kami. Talbiah cinta kami, sebagai wujud kepasarahan dan keikhlasan kami menjalankan perintah-Nya untuk berhaji. Melengkapkan rukun islam kami, dan menunaikan ikhtiar suci untuk pentaubatan segala dosa dan kesalahan kami.
”Labbaik... Allahumma Labbaik, Labbaik... laa syarikallaka labbaik...
Innalhamda, wal nikmata, lakawalmulk laa syarikalaq....”
Air mata tergenang dari wajah kami, keharuan dan kebahagiaan bercampur menjadi satu dan memenuhi rongga hati kami. Sejak malam ini, kami telah memulai perjalanan suci kami untuk menjadi tamu-Nya. Setelah sekian lama menunggu dan melengkapi berbagai persyaratan yang begitu rumit, akhirnya saat yang dinanti itu terjela sudah. Tak terkecuali aku yang telah  berharap dan berjuang lama sekaliuntuk bisa mewujudkan semuanya ini.
”Terima kasih atas kesempatan yang telah Engkau berikan yaa Rabb, kini aku mulai bergerak dan berjalan untuk menuju tanah suci-Mu. Ridhoi ikhtiar kami yaa Allah, ridhoi perjalanan panjang ini, agar kami semua mampu menjadi tamu-Mu seutuhnya... amiin...”

********


[1] Mbak Puji lihat Mimi di depan bus…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar