Wilujeung Sumping

Assallamu allaikuum...
semoga rahmat dan berkah Allah tercurah untuk Rasulullah, keluarganya, sahabat-sahabatnya dan kita semua sebagai umatnya...

Senin, 03 Januari 2011

12. Nadran Laut, Diantara Tradisi dan Mitos



Seperti kemarin, kesibukan kami terkadang memang merampas semua masa kanak-kanak kami, sehingga bagi kami bermain atau bekerja tak ada bedanya. Kami kadang bermain sambil bekerja atau bekerja sambil bermain. Pokoknya kami ingin menikmati apa yang bisa kami nikmati hari ini. Biasanya ketika pembeli mulai sepi kami ngumpul berlima untuk bernyanyi dan tertawa, melepaskan segala rasa yang ada dalam hati kami yang sebenarnya tak tahu akan kemana membawa langkah kami. Yang jelas kami memang menikmati segalanya. Seperti hari ini, ketika penumpang agak sepi kami memutuskan untuk berkumpul dan bermain ‘dam-daman’ (semacam taktik strategi limas mirip Halma tapi dalam konteks yang lebih kecil) dengan media batu dan kertas kardus yang telah kami lukis. Permainan ini sebetulnya hanya berjuang memindahkan batu-batuan ke arah gawang lawan dengan melewati garis yang ada di depannya. Akan tetapi setiap langkah batu harus melewati batu atau meloncati batu di depannya, tanpa itu biji batu tidak berhak untuk jalan. Seperti biasa master dari permainan ini adalah Ade dan Rossi. Kedua temanku itu memang pintar menghapal langkah lawan, sehingga ia bisa menghambat laju biji batu lawan.

“Ingat ya, kalau aku yang menang kalian harus traktir makan,” demikian teriak Rossi. Kali ini ia berhadapan dengan Yatno, sedangkan Ade sengaja dipasangkan dengan aku. Para pemenang akan diadu kembali hingga ditemukan pemenang utama. Pemenang utama inilah yang kemudian akan menentukan hukuman pada para lawan yang kalah.

“Santai aja, kali ini aku akan melawan kalian!” Yatno berteriak mengumbar semangat, “aku juga bisa jadi pemenang utama!”

“Eit, itu kalau kamu bisa ngalahin aku, Yat!” gantian Ade yang berucap konfrontatif.

“Kita tunggu saja, aku juga tidak mau mengalah begitu saja. Aku juga siap melawan kalian semua,” kataku tak mau ketinggalan. Sementara Kardi seperti biasanya ia hanya bisa senyum seraya menepuk-nepuk kami. Usianya yang terpaut tiga tahun lebih tua dari kami, kadang menunjukan sosok dewasanya. Ia seolah hanya mampu menyemangati secara tepukan di punggung kami. Kondisinya yang kurang normal seperti itu membuat kami memposisikan Kardi sebagai pelengkap dan saksi setiap permainan, dengan konsukuensi ia tidak pernah di posisi yang kalah. Kardi semacam ofisial bagi siapa saja yang menang, jadi jatah enak dan prefiledgenya ikut ia nikmati.

“Kalau Kardi dukung siapa nih?” Tanya Rossi mencoba mengajak Kardi terlibat.

“Pasti dukung aku khan Kar?” Ade menyela cepat.

“Yang pasti dukung aku, ia khan sering dapat gorengan dan buras dari aku...,” Yatno menyerobot ide Kardi.

“He he he... sssaya dddukung yang me memmenang saja!” kata Kardi dengan culunnya.

“Ha ha ha... rasain, jangan dikira orang kaya Kardi tidak bisa berfikir ya. Dia juga ingin enak lho...,” kataku puas.

Beberapa menit berlalu, kami berlima terlibat permainan yang serius. Beberapa barang dagangan kami terhampar begitu saja di samping kanan kiri kami. Kami terkadang malah cenderung tak acuh dengan aset-aset berharga itu. Otak dan fikiran kami terlalu serius pada permainan yang makin seru setelah partai final menghadirkan Rossi dan aku. Entah mengapa hari itu sepertinya Ade sengaja membiarkan aku menang agar aku bisa bertanding melawan Rossi yang hampir tidak pernah terkalahkan.

“Ada rokok, Dek?” tanya seorang penumpang yang kebetulan melintas di tempat kami bertanding.

“Ada sebentar,” kata Yatno seraya mengambil kotak rokok Rossi. Hari itu Rossi memang berjualan rokok, setelah beberapa hari ia muai malas mengamen. “Rokok apa Mas?”

“Jarum super 3 batang,” kata lelaki yang terbawa suasana serius melihat permainan kami. Perlu diketahui, permainan ‘dam-daman’ selain digemari anak-anak, sering pula dimainkan oleh orang dewasa bila sedang santai. Karena serunya adu taktik langkah, membuat permainan ini memang sangat tepat menghilangkan capek atau kesel.

“Ross, 3 batang jarum super berapa?”

“Cepek, Yat,” kata Rossi tanpa menengok.

Yatno yang sudah kalah lebih dulu membantu Rossi melayani penjualan. Setelah menerima rokok yang dicari lelaki yang ikut melirik permainan tak tik itu tersenyum simpul. Mungkin ia sedikit kagum dengan tak tik langkah biji batu kami.

“Satu langkah lagi, mati tuh!” katanya kemudian seraya ngeloyor pergi.

Mendengar itu, kami berempat berbalik memandang lelaki yang baru saja beli rokok itu. Ah, rupanya sedari tadi ia memperhatikan permainan ini. Di posisi lengah seperti itu, aku segera bergerak cepat melangkahkan biji batuku hingga mengunci jalan biji batunya Rossi.

“He he he.... kamu menang, Rist!” Ade tertawa terkekeh di sampingku, “tidak percuma aku membiarkanmu menang, ternyata kamu bisa melawan Rossi.”

“Iya dong, aku khan sudah bilang kalau aku juga bisa menang,” kataku agak menyombongkan diri. “Semua yang kalah harus traktir aku dan Kardi makan.”

“Tapi bukan berarti kamu bisa dapet semuanya ya?” Rossi balik menyerangku.

“Maksudmu?”

“He he he ... ingat tidak seminggu yang lalu, kamu masih berhutang hukuman kepadaku waktu aku menang,” katanya kemudian, “jadi aku juga minta kamu membayar dulu hutangmu baru aku mau melakukan hukumanku.”

“Tapi khan perjanjiannya, yang menang akan ditraktir makan,” kataku mengingatkan ucapan Rossi, “sedangkan minggu kemarin khan cuma gendong sampe ujung stasiun...”

“Kamu mau bayar hutang dulu tidak?”

Aku cemberut mengingat hutangku. Mau bagaiamana lagi setiap hutang khan memang harus dibayar. Dengan terpaksa aku harus menggendong Rossi dulu sebelum ia mentraktirku makan. Yatno dan Ade nyengir melihatku, seraya memberi isyarat kalau aku memang harus memenuhi janjiku terlebih dahulu. Dengan kesal akhirnya aku memenuhi dulu hutangku pada Rossi, dengan menggendongnya sampai ujung stasiun di perjalanan pulang. Sebetulnya Rossi tak bermaksud jahat atau mangkir dari konsukuensi kekalahannya, setahuku ia tak pernah begitu. Seperti kali ini, aku baru tahu kalau ia sengaja melakukan itu untuk tujuan yang lain kepadaku.

“Naah... kalau kamu sudah kecapean menggendong aku, kamu khan jadi bisa menikmati ‘sega jamblang’ ini dengan lahap khan,” katanya seraya menyikat ‘sate kentang’ kesukaannya.

Yah... Rossi memang teman yang baik. Banyak hal yang membuatku betah berlama-lama dengan komunitas stasiun kereta ini, yaa ketulusan dan kebaikan mereka itu salah satunya.

Belum selesai kami mengisi perut lapar kami di warung lesehan Mbah Jimbo, tiba-tiba Mang Salam datang menghampiri kami. Wajahnya terlihat kurang semangat, entah khabar apa yang ia bawa untuk kami. Mang Salam adalah salah satu sesepuh dari kampung kami, pekerjaannya tukang sol sepatu. Oleh karena itu ia sangat akrab dan sering bertemu kami di stasiun ini. “Lagi makan besar nih?”

“Eh... Mang Salam, “ kataku agak terkejut, “aku menang main ‘dam-daman’ Mang. Jadi mereka harus mentraktirku makan.”

“Weeh, tumben biasanya Rossi yang menang,” katanya kemudian.

“Kali ini Harist Mang,” Ade menimpali seraya mengunyah telur puyuh favoritnya. “Rossi berhasil dikalahkan oleh pemenang baru...”

“Ooh... gitu,” Mang Salam ikut memesan nasi jamblang yang terkenal enak dan murah itu. Kemudian beberapa saat iapun sudah terlena dengan ‘ikan asin panjelan’ dan ‘sambel goreng tahu’nya. “Sebetulnya Mang Salam ingin kalian mendengar kabar sesuatu...”

“Apa itu Mang?” tanya Ade cepat.

“Mang Salam diundang untuk ikut mengahdiri ‘Nadran Laut’ untuk masyarakat Kampung Kongsi,” katanya melanjutkan, “ itu berarti Wak harus ikut dalam ritual yang mengagungkan penguasa laut itu.” Sebagai tokoh masyarakat Mang Salam memang sangat disegani oleh kampung Pesisir . Ini bermula karena kepandaian Mang Salam dalam hal ilmu kejawen yang pernah ia lakoni beberapa tahun silam sebelum ia memutuskan untuk membuang semua keilmuan yang pernah membuatnya dikenal sebagai ‘orang pintar’. Hidayah datang pada Mang Salam ketika ia harus mengalami kecelakaan beberapa tahun yang lalu. Istrinya meninggal dan iapun kehilangan anak satu-satunya yang entah dimana. Hingga kini tidak ada yang menemukan mayat anaknya yang berusia dua tahun itu. Penderitaan yang hebat seperti itu membuat Mang Salam stress dan tak mengenali dirinya lama sekali, hampir tiga tahun. Hingga hidayah dan berkah datang padanya di suatu malam. Itu ia dapati dalam mimpinya, ketika ia menghibur rasa sedih dan pilunya di ‘Pesareane Sunan Gunung Jati’ di daerah Karang sembung. Dalam mimpinya ia merasa dimandikan oleh seorang lelaki tua yang berjubah putih, dan kemudian berpesan agar ia meninggalkan semua hal yang pernah ia lakoni selama ini.

“Loh bukannya itu enak Mang, biasanya yang diundang pada acara ‘Nadran laut’ itu akan dapat suguhan dan penghormatan yang lebih Mang. Bisa ketemu aparat desa dan para pejabat dari Balaikota,” Ade menyela pembicaraan.

“Kamu benar De, akan tetapi sepertinya ada yang harus Mamang renungi kembali dari apa yang sering masyarakat Pesisir Cirebon lakukan ini,” katanya kemudian, “karena pada niatan awal acara ‘sedekah laut’ ini merupakan ritual yang mengandung kemusrikan...”

“Maksud Mang Salam seperti adanya peng-agungan pada hal lain selain Allah?” tanyaku mencoba meyakinkan. Musrik khan menyembah Tuhan lain selain Allah, begitu kata Ustad Tardjo.

“Benar, Rist,” Mang Salam menatapku lekat-lekat. “Mamang sudah insyaf, dan Mamang berusaha untuk tidak kembali pada hal-hal yang berbau musrik seperti itu.”

Sejujurnya kami berlima tak begitu memahami apa yang menjadi kecemasan Mang Salam. Yang kami ingat pesta laut semacam itu akan banyak makanan enak yang dibagikan pada masyarakat, akan ada hiburan jaipong dan sandiwara tarling beberapa malam, dan yang terpenting adanya arak-arakan kapal hias yang kemudian di salah satu kapalnya melepaskan sesaji yang berisi kepala kerbau. Sesaji kapal ini akan diperebutkan warga masyarakat karena pada kepala kerbau itu di dalamnya ada berbagai perhiasan dari emas. Kami yang turut pada acara keramaian semacam itu, tidak lain karena ingin berebut mendapatkan perhiasan dari emas itu. Meski dari tahun ke tahun tak ada satupun yang bisa menemukan perhiasan dari emas itu, kami tetap saja tak surut untuk datang dan berebut.

“Terus kalau Mang Salam tidak mau datang, siapa nanti yang akan memimpin upacara ‘Nadran Laut’ Mang?” Yatno bertanya serius.

“Itu yang sedang Mamang fikirkan,” katanya kemudian, “kalau Mamang masih mau mengikuti acara semacam itu, Mang Salam takut kualat dengan lelaki yang telah datang di mimpi Mang Salam yang telah memandikan Mang Salam. Tapi kalau tidak datang, Mang Salam takut warga mengira Mang Salam sombong dan tidak menghargai mereka.”

“Lah kata Pak Ustadz Tardjo khan bagaimana niatnya, khan Mang...,” aku masih senang mengusung semua pendapat Ustadz ngajiku. Bagiku setelah ibu, Ustadz Tardjolah yang omongannya harus aku gugu dan aku tiru.

“Kamu benar Rist, semuanya memang tergantung niat kita,” Mang Salam terdiam sejenak, ia meneguk kembali es tehnya, “oleh karena itu Mang Salam lagi bingung apa yang harus Mang Salam lakukan kalau pada upacara ‘sedekah laut’ nanti niatan awalnya adalah memberi sedekah pada Nyai Roro Kidul atau penguasa laut kidul.”

“Yaa ngga usah pusing dengan niat yang lainnya Mang, sudah saja niatkan kalau Mamang hanya meramaikan tradisi budaya masyarakat saja,” kalimat Ade tiba-tiba meluncur dengan entengnya.

“Lha iya itu, menurut saya juga begitu. Yang penting Mamang dapat honor, bisa makan enak, melarung seluruh sesajian dan pulang…,” Rossi menambahi lebih komplit.

Mang Salam tersenyum, ia seperti mendapat solusi dari apa yang tengah membingungkannya. Iapun makin tersenyum ketika nasi jamblangnya telah habis ia lahap, tidak tanggung-tanggung tujuh bungkus sekaligus. Itu yang membuat kami semua menggeleng-geleng, Seingat kami, tubuh Mang Salam khan kurus, koq bisa menghabiskan nasi jamblang sampe tujuh bungkus sekaligus yah. Waah, laper sekali rupanya Mang Salam…

“Mamang kalau lagi pusing dan berfikir, memang begini,” katanya seraya mengelap sisa makanan di sela-sela bibirnya. “Daripada mikir yang tidak-tidak dan malah bikin tambah ruwet, enakan makan khan?”

Kami semua nyengir mendengar kalimat Mang Salam, bukan karena lucu akan tetapi kami bingung siapa nanti yang akan membayar semua makanan yang ia makan. Mang Salam khan jarang punya uang…

“Naah, berhubung Mamang sudah kenyang, dan sudah dapat solusi dari semua permasalahan Mamang, sekarang Mamang mau pulang dulu ya,” katanya sambil berdiri dan berniat pergi.

“Tapi anu Mang, siapa yang akan membayar makanan yang sudah Mamang makan?” Ade tiba-tiba langsung bersuara. Rupanya ia cepat menangkap apa yang menjadi kekhawatiran kami.

“Eh iya, Mamang hampir lupa,” katanya kemudian, “berapa semuanya Mbah?”

“Kabehe jadi pitungatus seket, Mang,” [1]Mbah Jimbo teliti menghitung.

“Oo yawis, iki ana rongatus dikit[2], sisanya biar mereka yang bayar,” kata Mang Salam enteng. “Bayarin dulu ya anak-anak, nanti Mamang dapat honor diganti..”

Kami berlima hanya bisa menatap Mang Salam dengan menggeleng kepala. Dan yang tak kalah heboh menggelengnya adalah Rossi, karena beban mentraktirnya menjadi lebih banyak. He he he , kasihan Rossi…

******

Semua perahu yang dihias nampak sudah berkumpul di tepian pantai, beberapa arak-arakan sesaji juga sudah terhampar diantara balai-balai bambu. Sementara para petugas dengan seragam batik mega mendung[3]-an nampak sibuk mengecek segala persiapan. Panggung, sound system, kentongan kayu, air bunga tujuh rupa, hingga yang paling disakralkan ; kepala kerbau yang telah dihias dengan perhiasan dari emas. Hari ini pesta nadran laut. Yang rutin dilaksanakan setiap setahun sekali akan segera di mulai. Beberapa tamu undangan, khususnya para pejabat desa, utusan kecamatan, hingga bos-bos pemilik kapal juga terlihat telah duduk manis di mimbar kehormatan. Salah satu undangan kehormatan yang paling kami kenal juga nampak duduk sambil manggut-manggut serius, dia Mang Salam, tokoh yang dipercaya untuk memimpin ritual sedekah laut ini.

Sesaat pengatur acara terlihat menyampaikan susunan acara yang akan berlaku sepanjang hari itu. Banyak design seremonial dari pesta nadran laut ini, namun bagi masyarakat yang hadir, hanya acara puncaknya saja yang membuat mereka rela berdesak-desakan dan menunggu sepanjang hari. Acara puncak itu adalah arak-arakan sesajen yang akan dilarung ke laut. Aku, Ruby dan keempat geng kereta-ku juga hanya tertarik pada yang satu itu.

“Kalau aku bisa mengambil kalung emas dari kepala kerbau itu, akan aku jual dan kubelikan sepeda BMX,” Yatno mulai dengan angan-anganya.

“Kalau aku akan menjual kalung itu dan menukarnya menjadi gitar Yamaha, Yat. Sejak dulu aku ingin sekali punya gitar favoritku itu, supaya aku bisa berlatih musik dengan semangat,” Rossi ikut menimpali angan-angan kami.

“Kalau aku, aku ingin menambah modal jualanku, aku ingin bisa buka lapak buku dan koran,” Ade tak mau ketinggalan. “Kalu kamu ingin diapakan kalung itu, Rist?”

Aku tersenyum nyengir, aku tak mau mereka menertawakan keinginanku, untuk menebus baju ibuku. Biarlah keinginanku ini menjadi rahasia hatiku saja.

“Ruby ingin ngasih kalung itu ke Mimi, biar Mimi kelihatan cantik,” Ruby tiba-tiba menyela percakapan kami. Sontak keempat kawanku tertawa cekikikan mendengar ucapan adiku itu. Kardi yang tak begitu faham dengan arah pembicaraan kami juga terlihat nyengir, meski entah apa yang ada dalam benaknya. Sedang aku hanya bisa menatap adiku dengan haru, mengapa fikiran kami sama seperti itu…

“Hadirin sekalian, kini tibalah saat yang dinanti-nantikan, yakni acara larung sesajen yang pada pesta nadran laut kali ini akan dipimpin langsung oleh sesepuh kita Mang Salam,” pembawa cara menyampaikan rangkaian seremonila selanjutnya.

Semua hadirin nampak bertepuk tangan menyambut pengumunan itu dengan gembira, termasuk kami yang telah menunggu sejak pagi. Tepuk tangan itupun kemudian terhenti ketika seorang lelaki berbaju jubah putih nampak turun dari mimbar kehormatan. Tatapannya tajam ke seluruh penjuru sedang mulutnya nampak komat-kamit mengucapkan sesuatu. Dialah Mang Salam, orang tua yang kami kenal sebagai kuli angkut stasiun kereta. Dia bisa terlihat begitu angker dan serius kalau sedang bertugas memimpin larung, padahal sehari-harinya, Mang Salam sangat kocak dan akrab.

“Demi pemilik ombak yang tinggi dan besar, izinkan kami melarung sesaji sebagai bukti kalau kami setia padamu. Tenangkan ombakmu dan datangkan ikan pada kami…

Demi laut yang luas dan dalam, izinkan kami melarung sesaji sebagai bukti kalau kami berbhakti padamu. Tenangkan gelombangmu dan datangkanlah rezeki pada kami…,” [4] suara Mang Salam seolah menggetarkan aura magis bagi setiap pengunjung yang hadir, tak terkecuali kami. Meski dalam keseharian ia hanya sebagai lelaki biasa, namun di posisinya sekarang membuat Mang Salam memiliki aura dan kharisma yang lain dari yang lain.

Tak berapa lama, acara melarung sesajipun dimulai. Satu per satu kapal nelayan yang telah dihias dan bertugas membawa sesaji bergerak ke tengah laut. Sementara tetabuhan musik tradisional terdengar begitu meriah mengiringi kapal-kapal hias berikutnya. Susul menyusul kapalpun dimulai, beberapa diantaranya adalah kapal yang memuat para penonton yang ingin melihat secara langsung proses pelarungan. Dan satu lagi yang membuat acara iring-iringan tersebut makin meriah adalah rombongan lelaki yang bertujuan ingin turut berebut sesaji yang akan dilarung, terutama kepala kerbau yang berisi perhiasan emas. Aku dan kawan-kawanku termasuk rombongan lelaki yang terdiri dewasa dan anak-anak itu.

Satu persatu sesaji yang telah di-doai oleh para sesepuh dan tokoh ritual dilarungkan ke laut, hingga tiba gilirannya kepala kerbau yang menjadi primadona sesaji. Detik pertama kepala kerbau itu di lempar, detik itu pula beberapa lelaki terjun dan berusaha menangkap kepala kerbau yang telah di larung. Dari jarak sekitar lima sampai enam meter itu, mereka berenang berebut sampai lebih dulu ke kapal yang baru saja melarung kepala kerbau. Namun seperti tahun-tahun yang telah lewat, kepala kerbau nyaris tak bisa ditemukan. Entah karena ia tenggelam lebih cepat dibandingkan para perenang yang memburunya, atu memang sesaji tersebut benar-benar diterima oleh penguasa laut, sehingga langsung hilang begitu mencapai air. Ini yang hingga kini tak pernah aku dapatkan jawabnya, meski kata Pak Ustadz kita tak boleh mempercayai takhyul semacam itu, namun kenyataannya hal ini terjadi. Hingga berpuluh tahun ke depan, prosesi dan keanehan semacam ini selalu terjadi dan menjadi bahan cerita bagi kami masyarakat Pesisir Cirebon.

Satu lagi yang kerap terjadi di setiap berlangsungnya pesta nadran laut, yakni selalu saja ada kecelakaan pada para peserta yang hadir. Seperti perahu bocor, mesin kursin yang mogok, sampai ada orang yang hilang karena tenggelam di laut. Dan yang terakhir itu terjadi pada pesta nadran laut tahun ini. Ketika beberapa ratus lelaki berenang berebut kepala kerbau, tiba-tiba sebuah kapal hias yang ditumpangi para penonton terlihat miring. Mungkin kelebihan muatan, hingga perlahan kapal itu akhirnya terbalik dan menumpahkan para penumpang di atasnya..

“Tolongg… anak saya hilang!” seru seorang wanita bertubuh gemuk.

“Eeh, ada yang tenggelam, cepat cari ayo cari…!!!”

“Toloong, bapak saya ngga bisa berenang, tolong….”

Seketika suasana meriahpun mendadak mencekam, apalagi ternyata tidak hanya satu orang yang berteriak kalau anggota keluarga atau rekan mereka yang hilang. Beberapa kapal hiaspun diperintahkan untuk berubah haluan untuk kembali ke pantai, sementara beberapa kapal yang lain dipakai untuk mencari para korban yang hilang. Pesta meriah itupun berubah menjadi upaya pencarian korban yang hilang.

“Ade, Ade mana Ross?” tanya Yatno yang ikut panik ketika banyak orang yang berlarian keluar dari kapal yang tengah merapat di tepian pantai ini.

“Ngga tahu, bukannya tadi satu kapal sama kamu?”

“Waduuh, mungkin sama si Harist!”

“Aku juga nyariin dari tadi, masalahnya Ruby ikut sama Ade tadi,” kataku terbawa cemas.

“Masya Allah, jangan-jangan Ade sama Ruby ikut kapal yang terbalik tadi,” Yatno mulai menambah panik kami. Ucapannya sangat mungkin, karena memang setelah semua kapal yang kembali ke pantai, kami tak menemukan dua sosok rekan sekelompok kami, Ade dan adiku, Ruby.

“Yaa Allah, selamatkan adiku, selamatkan mereka…,” hatiku tiba-tiba bergetar menahan kecemasan. Fikiranku berubah kalut tak mendapati adiku pada semua kapal yang telah kembali ke pantai ini.

“Yat, apa tidak sebaiknya kita ikut mencari ke laut lagi?” Rossi mulai dengan gagasan nekatnya.

“Kamu gila, ya. Bukannya ketemu kamu nanti malah ikut hilang seperti mereka,” Yatno terlihat berantisipasi.

“Tapi aku yang mengusulkan mereka untuk ikut acara nadran laut ini, No,” Rossi merasa bersalah dengan usulnya.

“Tapi bukan berarti kamu harus berbuat konyol seperti itu, ngga liat kalau laut sedang kalut seperti itu. Sudah banyak para nelayan yang sibuk mencari mereka yang tenggelam, jadi jangan tambah ruwet mereka dengan mencari kamu,” Yatno makin kuat melarang.

Sementara aku hanya bisa diam mematung menatap laut, pada belasan orang yang tengah mencari para korban. Jauh dalam hatiku, kalau aku sangat menyesal karena telah lalai menjaga Ruby dan amanah Ibu untuk tak membawanya pada kegiatan beresiko seperti ini. Tak terasa bulir bening menitik di pipiku, ini air mata kesedihan dan penyesalan dari sebuah pengingkaran nasehat orang yang sangat mencintaiku, maafkan Harist Mi…

“Itu ada kapal yang merapat lagi, coba lihat apa ada Ade sama Ruby,” Yatno berteriak mengejutkan aku yang tengah diam mematung menatap laut.

“Ayo Rist, mudah-mudahan mereka dapat di selamatkan,” Rossi menarik lenganku untuk segera bergegas menuju perahu yang baru saja merapat. Banyak orang yang berdiri di atasnya, mereka para korban yang berhasil diselamatkan.

“Itu Ade!”

Kami berlari menuju barisan orang yang turun dari perahu pengantar korban selamat, besar harapanku kalau aku juga bisa menemukan adiku diantara mereka.

“Ade, Ruby mana? Mana adiku?” kataku gemetar.

“Tadi sempat kupegang tangannya, tapi ngga tahu kemana?” Ade berucap separuh menggigil karena cemas.

“Tapi ia selamat khan?” tanyaku separuh terisak.

“Setahuku Ruby ngga ikut tercebur Rist, mungkin dia dibawa oleh kapal lain,” Ade masih terlihat bingung dan shyok. Namun pastinya tak sebanding dengan apa yang tengah aku alami, shyok, takut, sedih, galau, cemas dan sesal mendera hatiku sekaligus…

“Sabar Rist, kita tunggu kapal berikutnya, mudah-mudahan ia selamat seperti yang dikatakan Ade,” Rossi erusaha menghiburku. “Bersabarlah, aku yakin Allah menyelamatkan adikmu…”

Beberapa kapal hias mulai merapat kembali, aku selalu berlari dan memburu untuk mendekat. Namun hingga tiga kapal penyelamat merapat, aku tetap tak menemukan sosok Ruby, adiku. Cemas takut dan galau makin menderaku kini. Air mataku tak talgi kurasakan meleleh di pipiku. Aku benar-benar tak bisa menerima kenyataan kalau adiku hilang di acara nadran laut, apa yang akan dikatakan Mimi padaku…

Hingga siang berubah sore, adiku belum juga diketemukan. Terfikir di kepalaku kalau aku akan berenang sendiri ke laut, aku tak mau pulang sebelum adiku ketemu. Aku tak berani pulang tanpa kembali membawa Ruby, aku harus bisa menemukannya. Namun selangkah kucoba untuk berjalan menuju laut, sebuah lengan nampak memegang erat bahuku.

“Pengen mendi sira, Nang?”[5]

“Mang Salam… Ruby…,” kalimatku terpotong demi melihat sosok yang paling kucari. Aku memeluk tubuh ceking itu erat sekali, rasa syukur dan bahagia menghangatkan kembali hatiku. “Ketemu dimana Ruby, Mang?”

“Dia ngga ikut jatuh, Rist,” Mang Salam bercerita, “adikmu pintar, ia masuk ke dalam tong kayu yang ada di lambung kapal tepat ketika akan terbalik. Jadi ketika yang lain jatuh ke laut, ia malah naik tumpangan tong kayu tadi…”

Aku menatap wajah polos yang masih setengah bego itu, matanya berkilat seolah ia tak mengalami apa-apa. Aku mengacak rambutnya yang tebal dan hitam,” kamu bikin kalut semua orang tau! Kalau Mimi tahu, habislah kakakmu ini….”

“Memang kenapa, Mas. Ruby khan ngga apa-apa?”

Semuanya nyengir kuda, tak lagi bisa menanggapi ocehan anak kelas satu SD itu. Namun meski begitu rasa syukur tak putus di hati kami, Allah telah mengembalikan orang-orang yang kami cintai dari musibah ini. Terima kasih Yaa Allah, atas segala rahmat-Mu…

*****


[1] Semuanya jadi tujuh ratus lima puluh rupiah, Mang

[2] Ooo, ya sudah ini ada dua ratus dulu,

[3] Mega mendung adalah salah satu motif batik cirebonan yang dipakai pada upacara-upacara khusus.

[4] Kalimat tersebut hanya rekaan penulis, pada kenyataannya ada mantra khusus yang selalu dibacakan penghulu nadran dalam prosesi nadran laut.

[5] Mau kemana kamu, Nak?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar