Wilujeung Sumping

Assallamu allaikuum...
semoga rahmat dan berkah Allah tercurah untuk Rasulullah, keluarganya, sahabat-sahabatnya dan kita semua sebagai umatnya...

Sabtu, 10 April 2010

Keseharian Ibu, Ada Kasih yang Tak Terbatas


Belanja, belanjaaa… Bu, belanjanya nih, masih komplit!” suara wanita kurus itu terdengar lantang hingga puluhan meter ke seluruh penjuru kampung. Berbarengan dengan suara keras dan nyaring itu, pemandangan yang super repot juga terlihat begitu jelas. Tumpukan daging, ikan dan aneka lauk tertata di atas tampah yang tersunggih di atas kepala, sedangkan sayur-mayur yang masih hijau nampak padat dan bergelantungan dari cepon yang melekat erat di pinggang perempuan berkulit coklat itu. Sementara tangannya yang lain sibuk menenteng keranjang dengan aneka jajanan. Yah, dialah Ibuku. Sosok perempuan tua yang senantiasa menjalani kesehariannya untuk membesarkan kami dengan berjualan keliling kampung. Tubuhnya yang ringkih tak terlihat renta dengan barang dagangan yang beratnya sangat tak biasa untuk wanita seukuran Ibu.

Langkahnya yang terkadang gemetar tak menyurutkan niatnya untuk membantu sang suami untuk mencukupi semua kebutuhan kami. Ibu memang telah menekuni kegiatan berdagang seperti itu lama sekali, oleh karenanya beban berat seperti itu seolah tak dirasakannya. Dan itu benar-benar kurasakan ketika sekali waktu aku diminta Ibu untuk menemaninya berjualan. Waktu itu, ada ujian akhir untuk anak kelas enam, sehingga kami diliburkan selama empat hari. Selama empat hari itu pula aku diminta menemani Ibu keliling kampung menjajakan dagangan sayurnya. Aku hanya diserahi satu keranjang yang penuh jajanan dan makanan kecil, sementara Ibu tetap membawa tampah dan cepon yang sarat dengan barang bawaan. Namun tetap tak mengurangi banyak beban Ibu, karena keranjang yang kubawa beratnya tidak sampai seperempat dari yang dibawa ibu. Sungguh luar biasa bagiku, karena beban seberat itu tetap tak mampu melemahkan semangat ibu untuk mencukupi hidup kami.

“Setelah dari kampung Empang IV, kita kemana lagi, Mi?” tanyaku yang separuh menahan pegal dengan keranjang jajanan ini.

“Kita akan ke kampung Empang III, Cung. Disana banyak langganan Mimi yang berjanji akan melunasi hutangnya hari ini,” kata ibuku dengan kalem, sembari merapihkan letak lauk pauk yang baru saja diacak-acak pelanggan untuk memilih. Ayam, daging, krewedan[1] (cincangan tulang), ikan bandeng, hingga telur dan tahu tempe ia letakan kembali sesuai posisinya. Sementara sayur bayem, kangkung, genjer, kubis, lobak dan wortel diletakan dengan cermat di dalam cepon yang terbuat dari anyaman bambu itu. Tangan Ibu terlihat cekatan merapihkan semuanya itu, meski sesekali ia mengelap peluh dan keringat yang mengalir di dahinya.

“Mumpung libur, kamu bantuin Mimi sampe siang yaa,” katanya kemudian, “biar nanti kalau kamu Mimi suruh menagih hutang, kamu hapal dengan para pelanggan.”

“Iya Mi,” kataku pelan. Sebetulnya ada sedikit kesal di hatiku, karena liburan ini aku tidak bisa ikut teman-temanku mencari ikan keting[2] di pingir laut. Di musim angin menjelang musim barat ini, biasanya ombak laut agak kencang sehingga banyak membawa ikan-ikan yang mirip lele itu ke pinggiran pantai. Namun seperti hari-hari kemarin aku tak mampu menolak permintaan Ibu, apalagi bila Ibu sampai mengucapkan kalimat pamungkasnya padaku…

“Mimi khan nyari uang buat jajan dan sekolah Harist, masa Harist tidak mau membantu Mimi…”

Setelah itu siapapun, termasuk kakak-kakaku tak lagi berucap untuk mengelak dari tanggung jawab sebagai anggota keluarga. Memang sudah selayaknya kami tak menawar untuk kondisi kami seperti itu, setidaknya apa yang diminta ibu hanya sebagian kecil dibandingkan pengorbanan tulus yang telah ia berikan pada kami.

Ibu terlihat semangat melayani beragam pelanggan di kampung Empang III ini, sejak kedatangan kami seperempat jam yang lalu. Rupanya sebagian besar dari mereka memang tengah menunggu. Mungkin karena ibu membebaskan mereka untuk mengambil barang belanjaan lebih dulu dan baru membayarnya sore atau beberapa hari kemudian. Kenyamanan seperti itulah yang membuat ibu banyak ditunggu masyarakat Pesisir yang memang lebih banyak kurangnya daripada cukupnya. Ibu juga dikenal tidak pelit dalam hal tawar menawar harga. Sekali waktu malah memberikan potongan harga untuk mereka yang belanja sambil melunasi hutang-hutangnya.

“Kien anake tah, Yu Am?[3] tanya seseorang wanita berperawakan subur.

“Iya, ini yang ke enam. Pangais bungsu,” kata Ibuku sambil tersenyum ke arahku.

“Kayane beda ya karo kang sejene, Yu Am[4]…”

“Emang kenapa?” tanya Ibuku sambil membelai rambutku.

“Agak kuning kulitnya dibanding yang lain,” katanya seraya menatap ke arahku lekat-lekat. Kata orang-orang, kulitku memang lebih bening dibandingkan enam saudaraku. Mungkin karena aku ikut kulit ayahku yang memang lebih bening dibandingkan Ibuku. Ah, aku jadi malu dengan perkataan wanita itu.

“Bisa aja, Ceu Onah mah. Ini sudah semua? saya hitung dulu yaa…,” kata Ibuku seraya merapihkan barang belanjaan yang telah dipilih wanita yang dipanggil Ceu tadi. Kemudian transaksipun di mulai. Sebagian besar dari mereka memang lebih banyak yang menghutang daripada kontan.

Dari kampung Empang III, kami melanjutkan ke kampung selanjutnya yakni Empang II. Disini Ibu juga masih memiliki beberapa pelanggan yang biasa menggunakan jasa ibu. Sebagian besar warga kampung ini berprofesi mengolah ikan asin, sehingga mereka baru bisa membayar hutang setelah tiga atau empat hari. Mereka harus menjemur ikan-ikan itu lebih dahulu sebelum benar-benar kering dan layak untuk dijual pada pengepul yang kemudian dilanjutkan ke Pasar Pagi, Pasar Jagasatru atau Pasar Kanoman.

Dari Empang III barang dagangan ibu sudah hampir habis, biasanya ibu memutuskan untuk menjajakannya ke arah jalan pulang. Rute terakhir ibu biasanya menyusuri pinggir pantai dan menawarkan sisa dagangan itu pada penduduk yang tinggal di sana. Salah satu pelanggan ibu yang selalu menerima sisa penjualan dengan harga yang royal adalah Mak Ileng. Katanya dulu dia itu pelawak TVRI seangkatan Mama Hengky atau Ratmi B 29, hanya saja ketika usia senja ia memutuskan untuk pulang kampung dan menetap di pinggiran pantai kami. Rumahnya sangat teduh karena terbuat dari bilik dan atap rumbia yang dimodifikasi seperti rumah peristirahatan. Letaknya juga unik, yakni berada di tengah daratan yang sekelilingnya dilingkupi sebuah empang dengan banyak ikan mujaher dan blanak. Samping kanan kirinya juga ditumbuhi pohon petai cina, kelapa, kapidada, brayo, dan kresem yang sangat bagus untuk melindungi dari sengatan matahari.

“Masih apa bae, Am?”[5]

“Anu Mak, masih wonten ayam, ndog bebek, sareng tempe,” [6]sahut ibuku dengan bahasa Cerbon halus.

“Oh, ya wis ayamnya saja, sini semua,” katanya kemudian, “sayurnya masih apa?”

“Wonten sop sareng bayem, Mak…”[7]

“Sopnya aja, ya. Hitung semua….” Katanya seraya mengeluarkan bungkusan kain dari ikatan perutnya yang gendut.

“Jadi sebelas ribu lima ratus, Mak.”

Perempuan selebritis tempo dulu itu langsung membayar tanpa menawar. Ia memang terkenal baik dan royal pada siapa saja, oleh karena itu banyak warga kampung pesisir yang mengenalnya.

Setelah sisa ayam dan sayur mayur diborong oleh Mak Ileng, ibu memutuskan untuk pulang. Dagangannya tinggal beberapa sayur bayem, telur bebek dan tempe dua potong. Melihat itu, aku jadi senyum-senyum sendiri. Betapa tidak, kebiasaan ibu adalah memasak sisa dagangannya untuk lauk makan siang kami. Jadi pastinya, kami akan makan telur dadar bebek dan tempe goreng yang lezat siang ini. Aku sudah membayangkan akan makan telur dadar buatan ibu yang biasanya sering diberi parutan kelapa. Aromanya yang khas dibandingkan telur dadar kebanyakan membuat nafsu makan kami jadi bertambah.

“Kenapa senyum-senyum sendiri, Rist?”

“Siang ini kami akan makan telur dadar kelapa khan, Mi?” tanyaku meyakinkan lamunanku akan masakan ibu.

“Iya, sisa telurnya akan Mimi dadar buat kalian,” kata ibuku menyungging senyum. Rupanya ia geli melihatku yang sedari tadi berharap memasak sisa dagangan untuk lauk makan siang. “Tapi ada syaratnya…”

“Apa syaratnya, Mi?”

“Nanti tolongin Mimi untuk beli beras sama minyak tanah ya.”

“Siap, Mi!” kataku penuh semangat.

Langkahku baru sampai di depan pintu belakang rumah bilik kami, ketika seorang wanita dengan daster lusuh datang menghampiri Ibuku. Dia Bu Sarah, tetangga belakang rumah kami. Tampilannya seperti yang sedang bingung dan entah apa yang sedang dibicarakan dengan Ibuku.

“Punten pisan Yu Am, kula njaluk tulung…”[8]

“Memang ada apa Dik Sarah?”

“Suami saya pulang narik becak semalam tidak bawa uang, jadi…”

“Tidak apa-apa Dik, Dik Sarah tidak perlu membayar hutang sekarang,” potong ibuku cepat.

“Iya Yu Am, tapi kalau Yu Am percaya saya mau ngambil belanjaan lagi…,” katanya dengan nada penuh harap.

“Ada sih sisa dagangan, tapi…,” kulihat ibu agak bingung untuk melanjutkan ucapannya, apalagi ketika ia melihat kedatanganku yang sibuk membawa beras dan jerigen minyak tanah.

“Sisa apa saja lah Yu…,” suara perempuan yang dipanggil Dik Sarah oleh Ibu itu terlihat begitu berharap, “saya tidak punya apa-apa untuk lauk makan anak-anak saya.”

“Masih ada telur bebek dan tempe, Dik Sarah. Cuma saya bermaksud…”

“Sebetulnya tempe juga cukup, Yu. Cuma kalau boleh saya mau menghutang telur bebeknya. Anak saya yang bungsu pengen makan telur sejak kemarin, sampai terbawa ngigau,” mendengar itu ibuku langsung diam dan menatap ke arahku bingung. Ia tahu aku juga sudah begitu berharap, kalau siang ini makan telur dadar kelapa. “Tapi kalau tidak bisa juga ngga…”

“Oh bisa, bisa… nanti saya ambilkan ya,” seru ibuku sambil beranjak ke dalam. Detik berikutnya ia kembali sambil membawa dua butir telur yang telah kuincar sejak pulang tadi.

“Saya berjanji, Yu Am. Kalau suami saya pulang narik sore nanti, saya akan membayar semua hutang saya…”

“Aah.. tidak usah sungkan, Dik Sarah. Kita bertetangga, sudah selayaknya saling membantu.”

“Terima kasih, Yu Am,” kata perempuan berdaster itu yang dibalas dengan senyum simpul Ibuku, sementara aku hanya bisa diam mematut menyesali apa yang telah aku bayangkan beberapa saat yang lalu.

“Kita masih bisa masak dan makan telur dadar kelapa kapan-kapan khan Rist,” kata ibuku yang menyadari kekecewaanku. “Menurut Mimi, tempe juga sudah bagus, setidaknya kita masih bisa makan dengan lauk hari ini…”

Begitulah ibu, ia selalu membiasakan kami untuk tidak mengeluh dan kecewa dengan apa yang telah terjadi. Seingatku ibu memang kerap mendidik kami untuk hidup sederhana dengan apa yang kami dapat hari ini. “Dengan terbiasa hidup susah dan prihatin, akan membuat kalian lebih mawas dan bisa menghargai hidup ini dengan tulus…” begitu nasehat beliau pada kami. Dan karena pesan itu, beberapa tahun kemudian kami benar-benar bersyukur karena telah dikenalkan Ibu dengan gaya hidup seperti itu.

******

Musim barat telah tiba. Saat hujan turun hampir di sepanjang waktu, dan gelap temaram seolah mewakili keseharian kampung kami. Angin bertiup sangat kencang, seakan diakibatkan turbulensi sebuah jet dengan kekuatan beberapa ribu knot. Oleh karena itu ombak yang timbul juga menghempas seluruh pinggiran pantai, membawa apapun yang selama ini terapung di tengah laut. Bagang, kapal perahu, hingga beberapa jaring rumpon nelayan semua terhempas ke pinggiran pantai. Ketinggian ombak yang lumayan di perairan Laut Jawa itupun otomatis menghentikan beragam aktifitas nelayan yang biasa melaut dari maghrib hingga subuh. Mereka lebih memilih untuk diam di rumah sambil membenahi jaring atau kapal-kapal perahu mereka yang rusak.

Seperti biasanya kondisi tak nyaman seperti itu memberikan dampak yang kurang menguntungkan bagi masyarakat kampung Pesisir ini. Harga ikan mendadak naik, karena sedikit sekali nelayan yang berani melaut. Begitu juga harga-harga barang yang mendadak ikut-ikutan naik karena alur distribusi yang terganggu di cuaca yang hampir seharian hujan itu. Kalau sudah seperti itu, banyak dari pedagang yang sementara istirahat sambil menunggu kondisi membaik. Namun itu tak berlaku untuk ibuku, ia tetap harus berdagang. Dengan berdagang itulah ia bisa membantu membiayai kebutuhan sekolah kami yang sering tak tercukupi dari gaji kiriman ayahku.

Akan tetapi seperti tahun-tahun yang telah lewat, di musim penghujan seperti ini kondisi jalanan kampung kami tak juga berubah. Seolah tak pernah terperhatikan oleh pemerintah daerah, kampung kami tetap becek dan kumuh di musim seperti ini. Karena sebagian besar jalan di kampung kami masih berbentuk tanah lempung yang pastinya sangat becek dan licin untuk dilewati. Itu pula yang menjadi kecemasan dan kekhawatiran kami, ketika ibu tetap berdagang dengan beban belanjaan yang sangat berat.

“Apa Atin libur saja dulu, Mi?” tanya Mbak Atin yang tidak tega melihat barang dagangan ibu yang begitu berat. “Biar Atin bantuin bawa dagangannya…”

“Tidak usah, Nok. Ini sudah tinggal setengahnya, tadi banyak yang ngambil belanja di rumah,” cegah Ibuku, ia memang tak mau anak-anaknya membolos hanya gara-gara ikut berdagang.

“Tapi jalanan becek Mi, pasti licin. Dengan barang dagangan seberat itu, Atin takut kalau ada apa-apa…”

“Tidak usah mikir terlalu jauh, sudah pada sekolah saja. Doain saja Mimi biar tidak ada apa-apa,” ibu masih tetap berkeras kami semua sekolah. Ia tetap tak ingin anak-anaknya bolos hanya karena ingin membantunya.

Kami tak tega membiarkan ibu berdagang di cuaca gerimis dan jalanan licin , akan tetapi kami juga tak berani membatah perintah Ibu untuk tetap masuk sekolah. Jadilah hari itu, kami berlima tetap pergi ke sekolah dan membiarkan ibu berdagang sendiri . Mas Adi sudah berangkat dari subuh, karena ia tengah praktek lapangan untuk tugas akhirnya di STM Muhammadiyah. Mbak Atin dan Mbak Puji seperti biasa berangkat bersama karena mereka satu sekolah yakni SMP Diponegoro, sedang aku dan Ruby berjalan menyusuri kebun bunga melati di Kampung Melati untuk bisa sampai ke Sekolah Dasar Melati II.

Karena jarak sekolahku dan Ruby tergolong dekat, kami terbiasa berjalan setiap pagi. Begitupula beberapa anak dari Kampung Pesisir yang kebetulan satu sekolah dengan kami. Di kondisi hujan gerimis seperti ini, biasanya kami jalan beriringan dengan beratapkan daun talas atau daun pisang yang banyak tumbuh di sepanjang jalan menuju sekolah.

“Jangan lupa ya, kalau sudah bel pulang jangan kemana-mana, tunggui Mas Harist dulu di warung Mang Kus,” kataku setiap kali mengantarkan Ruby ke depan pintu kelasnya.

“Iya, Mas,” begitu jawab adik bungsuku seraya masuk ke dalam kelas. Selama kelas satu, ibu memang mengamanahkan Ruby kepadaku. Begitu juga ketika aku kelas satu dulu, ibu mengutus Mba Puji untuk menemani dan menjagaiku.

Beberapa jam berlalu, akupun bisa kembali pulang setelah menjemput Ruby yang seperti biasa menungguiku di Warung Mang Kus. Di sana juga biasanya ada Rossi, Ade dan Yatno yang sering menggoda dan mencandai adiku. Mereka memang teman-temanku yang biasa pulang pergi bersama ke sekolah ini. Meski tingkat kelas kami berbeda, kami sangat erat dan kompak. Mungkin karena kami searah di perjalanan pulang, seperti aku dan Yatno yang di Empang V, Ade di Empang III, atau Rossi di Gang Batas. Nama-nama kampung itu letaknya memang bersisian dan terbilang dekat.

“Rist, mau tidakk?” tanya Rossi saat itu.

“Mau apanya?” kataku yang tak ingat dengan rencana kami beberapa hari yang lalu.

“Kita jualan di terminal atau kalau tidak di stasiun, selain kita bisa bebas bermain, kita khan bisa ngumpulin uang…”

“Aku masih belum berani, ketahuan mulung rongsokan saja, ibu langsung menangis, Ros. Aku tidak mau melihat ia menangis lagi…”

“Ini beda, Rist. Kita tidak jadi pemulung, kita jualan koq! Ini lebih bagus khan daripada harus berebut rongsokan di tempat sampah,” Ade menimpali.

“Tapi aku belum berani bilang sama Ibu, De. Kamu tahu khan aku juga tidak bebas bermain sendiri, ada Ruby yang harus aku jagai…”

“Kamu ajak saja si Ruby ikut dengan kita, beres khan?” Yatno menyela dengan entengnya. Dari ketiga temanku, dia memang paling getol berbisnis. Apa saja ia jadikan uang, tidak rongsokan, tidak buku bekas, apa saja pokonya ia tukar menjadi uang. Ia juga yang beberapa waktu yang lalu mengajariku mencari jantung pisang dan menjualnya pada Mbok Darmi. Mungkin karena Yatno juga dari keluarga kurang beruntung sepertiku, sehingga keseharian kami lebih banyak diisi dengan keinginan mencukupi kebutuhan kami.

“Mengajak Ruby, waduh.. tidak mungkin lah! Bagaimana kalau nanti Ibuku tahu, aku bisa digantung tahu,” kataku tercekat. Bagaimana tidak, ibu sangat mewanti-wantikan Ruby padaku, kalau ada apa-apa denganya bisa-bisa ia akan marah besar.

“Ya sudah, sekarang tidak perlu diributkan, kita biarkan si Harist berfikir dulu. Nanti kalau ia sudah ambil keputusan, kita bicarakan lagi semuanya ini,” ucap Ade yang usianya lebih tua dua tahun dariku. Ia sudah duduk kelas lima, oleh karena itu badannya juga lebih tinggi dari kami semua.

Beberapa orang nampak berkerumun di dalam rumahku ketika aku baru saja mengucapkan salam untuk masuk. Salah satu diantaranya malah ngomel-ngomel tidak jelas. Dia Mba Kusti tetangga samping kami, dia memang selalu begitu setiap menghadapi permasalahan keluarga kami.

“Kamu itu harusnya sadar Am, wong wis tuwa jeh ngerasane nom bae![9] katanya bernada ketus, “kalau sudah begini khan kamu sendiri yang repot.”

“Sebenarnya tidak banyak barang dagangan yang saya bawa, Kus. Hanya beberapa pesanan pelanggan. Mungkin karena jalanannya saja yang licin, jadi saya kehilangan keseimbangan…” suara Ibuku terdengar pelan menahan sakit. Sementara itu seorang wanita paruh baya nampak sibuk mengurut pergelangan tangan ibu. Kondisi ibu yang kurus membuat tulang hastanya yang berpindah dari posisinyapun nampak terlihat jelas.

“Mimi kenapa?” tanyaku cemas.

“Yaa itu, Ibu kamu Rist, sudah tahu jalanan becek dan licin bawa dagangan tidak kira-kira, khan jadi begini akhirnya,” Mbak Kusti menjawab mewakili Ibu.

Seperti biasa, Ruby tidak banyak kata. Ia langsung menghambur dan menangis di ketiak ibu. Ia memang seperti itu dalam mewujudkan ekspresinya, baik senang, malu atau sedih pasti begitu. Dan itu membuat ibu menjadi lebih dekat dengannya. Karena itu pula membuat kami terkadang berfikir kalau ibu lebih sering memperhatikan Ruby dibandingkan kami.

“Tidak apa-apa, tidak ada yang retak. Ini hanya bergeser letak saja,” Mak Sondari nampak menyelesaikan tugasnya. Ia dukun pijit dan urut kampung kami, pengalamannya yang sudah belasan tahun membuat kami yakin kalau ia sanggup mengobati terkilir atau keseleo karena jatuh. “Sing penting aja klalen,[10] dirutinkan saja baluran param kocok dan ramuan yang saya buat tadi, Insya Allah akan bisa kembali normal.”

“Iya Mak, terima kasih,” kata ibuku sambil nyengir menahan rasa sakit.

“Tuh diingat-ingat ya Am, jangan sampai lupa,” Mbak Kusti ikut menyambung. “Kalau bisa jangan jualan dulu sampai tanganmu sehat betul…”

“Iya, Kus. Terima kasih sudah memanggilkan Mak Sondari,” kata ibuku seraya mengelus Ruby yang masih terisak. Pandangan ibu kemudian terpaling pada barang dagangan yang nampak masih kotor bercampur lumpur, ada kecemasan yang sangat di bola matanya.

“Sudah tidak usah bingung, kamu tidak usah melanjutkan jualan Am. Itu yang masih utuh saya borong saja, kebetulan mau ada tukang yang membetulkan rumah,” kata perempuan bertubuh subur itu sambil mengemasi dagangan ibu yang masih banyak menumpuk.

Setelah kepergiannya, akupun diperintahkan ibu untuk memilah barang dagangan ibu yang masih utuh dan yang terkena lumpur. Kemudian mencucinya untuk membersihkan lumpur-lumpur yang masih melekat. Ibu berniat mengolah barang dagangan yang telah kucuci itu menjadi masakan matang agar tidak rugi besar.”Nanti biar Mbak atin dan Mbak Puji saja yang masak, Rist. Kamu beres-beres rumah saja, terus ke warung Bu Musri ya, beli beras dan minyak tanah.”

“Baik, Bu…”

Menjelang jam dua siang, kedua kakak perempuanku itu datang. Merekapun bergegas dan langsung memasak barang dagangan yang telah kubersihkan itu menjadi masakan matang. Demi melihat kondisi ibu yang tak lagi bisa mengangkat beban berat, mereka berdua langsung menjajakan masakan matang itu keliling kampung. Mereka ingin ibu bisa sejenak beristirahat, hari itu.

Setelah kejadian itu, kedua kakaku terlihat lebih rajin dari biasanya. Semua pekerjaan rumah mereka kerjakan semua, termasuk beberapa pekerjaan yang selama ini diselesaikan ibu.Hanya saja setelah beberapa hari , ternyata pergelangan ibu tetap tak kembali seperti sedia kala. Meski perban yang membalut lengan ibu telah dibuka, namun rasa ngilu dan posisi tulang yang mengsol tetap saja. Oleh karena itu, ibu memutuskan untuk berhenti berdagang sejenak sambil menunggu kesehatannya pulih kembali.

Hari berlalu, kini genaplah satu bulan ibu tak lagi berdagang sayur. Sisa modal yang ia milikipun semakin menipis demi makan sehari-hari dan juga biaya sekolah kami. Hingga pada puncaknya, kebingungan benar-benar mendera ibu, ketika ia dihadapkan pada tuntutan biaya sekolah kami. Mas Adi harus membayar biaya ujian prakteknya, Mba Puji dan Mba Atin harus menutupi beberapa bulan SPP-nya, sedang aku dan Ruby masih harus melunasi BP3 di sekolah kami.

Aku dapat melihat kesedihan yang sedemikian bergelayut di hati ibu, meski tak kulihat ibu menitikan air mata. Pandangannya yang terkadang kosong membuat kami makin mengerti kalau ibu tengah berada di puncak ketakberdayaannya mencukupi segala kebutuhan kami. Beberapa dari kamipun mencoba memutuskan untuk berhenti sekolah saja.

“Mimi tidak mau salah satu dari kalian berhenti sekolah, cukup ibu saja yang merasakan susahnya hidup tanpa ilmu. Mimi tak mau kalian juga buta huruf seperti Mimi, Mimi ingin melihat kalian semuanya maju. Jangan pernah patahkan semangat Mimi untuk menyekolahkan kalian dengan keinginan kalian seperti itu. Jangan pernah, Nak…” ibu terisak menahan tangis yang mungkin telah ia tahan selama ini. Melihat itu kedua kakak perempuanku menangis dan memeluk ibu, mereka meminta maaf dengan keputusan mereka untuk berhenti dari sekolah.

“Maafkan Atin Mi, Atin tidak bermaksud menghilangkan semua harapan Mimi pada Atin…,” Mba Atin tak kuasa menahan tangis , “Atin hanya tidak ingin kalau semuanya ini memberatkan Mimi.”

“Enji juga tidak bermaksud untuk tidak mendengar nasehat Mimi, tapi Enji rasa sebagai perempuan sekolah bukan segalanya. Enji masih bisa kursus dan membantu Mimi untuk mencari uang…”

“Sudah, sudah Nok! Jangan diteruskan, pokoknya Mimi tidak mau mendengar apapun alasan kalian. Jangan buat Mimi sedih karena tak dapat menjaga amanah Bapak untuk membesarkan dan membuat kalian lebih baik,” kalimat ibu nampak memuncak, ia tak mau lagi disangkal. “Setidaknya kalian masih memiliki Bapak yang berjuang di tengah laut sana. Jangan kecewakan pengorbananya dengan melihat kalian putus sekolah…”

Begitulah, hingga akhirnya keputusan ibu berdampak pada habisnya sisa modal ibu untuk melunasi sebagian tunggakan biaya sekolah kami. Sementara kekuarangannya ibu selesaikan dengan datang ke sekolah kami dan meminta kebijaksanaan sekolah untuk meringankan biaya kami.

“Maafkan Adi, ya Mi. Adi janji, setelah lulus nanti Adi akan mencari kerja dan membantu Mimi meringankan beban biaya adik-adik semua,” Mas Adi berucap dengan air mata yang tertahan di kelopaknya. Sebagai anak laki-laki tertua memang tanggung jawabnyalah membantu ibu.

“Mimi percaya dengan semua ucapanmu, Nak. Semoga Allah mempermudah semua keinginanmu,” jawab ibu dengan senyum haru.

Seketika malam yang gelap dan hening datang menyergap , seakan mewakili keterasingan ibu dalam menghadapi ketakmampuannya. Helaan nafasnya yang panjang dan perlahan, menyiratkan begitu dalam kebingungan dan kegamangan yang tengah ia rasakan. Akankah ibu mampu melewati semuanya ini, ketika begitu besar keterbatasan selalu hadir di setiap langkahnya….

********


[1] Cincangan tulang ini sering digunakan sebagai penyedap sayur sop atau tumisan, karena memang lebih banyak tulangnya daripada dagingnya, sehingga fungsinya hanya penyedap rasa.

[2] Sejenis ikan patin laut yang bentuknya seperti lele dan berduri tajam

[3] Ini anaknya ya, Yu Am?

[4] Sepertinya beda dengan yang lainnya, yah…

[5] Masih apa saja, Am?

[6] Anu Mak, masih ada ayam, telur bebek, dan tempe

[7] Ada sop dan bayem, Mak…

[8] Maaf sekali, Mbak Am, saya minta tolong…

[9] Orang sudah tua koq mersanya masih muda saja

[10] Yang penting jangan lupa…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar