Wilujeung Sumping

Assallamu allaikuum...
semoga rahmat dan berkah Allah tercurah untuk Rasulullah, keluarganya, sahabat-sahabatnya dan kita semua sebagai umatnya...

Minggu, 23 Oktober 2011

sebuah tautan dari Novel Takbir Takbir Cinta 2

15. Sepatu Untuk Ruby

Awal Juli 1988, awal tahun ajaran baru bagi kami…


Beberapa anak berseragam merah putih nampak mengerubuti pergumulan salah seorang anak dengan temannya. Suara sorak sorai diantara mereka seakan memecah kesunyian rerimbunan pohon pisang kepok H. Nawa. Beberapa diantaranya malah bertepuk seraya berjingkrak seolah menonton pertunjukan yang paling heboh. Aku yang baru sampai di antara mereka berusaha untuk mencari tahu, apa sebenarnya yang tengah terjadi. Tanganku berusaha menepis beberapa tubuh yang merapat dan menutupi dua anak yang tengah sengit berkelahi. Suara tendangan dan pukulan seolah melengkapi riuh redah anak-anak dari SD Kebon Melati ini.


Sebenarnya aku hanya ingin tahu saja, apa yang sedang terjadi di siang menjelang sore itu. Akan tetapi karena salah satu erangan yang kudengar seolah kukenal membuatku makin penasaran, siapakah gerangan yang tengah bergumul dalam perkelahian ini. Dan ketika aku berhasil menepikan beberapa badan yang berbaris bagai tembok pembatas, mataku terbelalak kaget. Di depanku nampak sesosok tubuh yang sangat kukenal, dia Ruby adiku. Tapi mengapa ia sampai berkelahi seperti itu.


Melihat pemandangan yang sangat tak mengenakan itu, aku segera berlari ke tengah arena pergumulan dan berusaha untuk melerai perkelahian ini. Namun rupanya sikapku ini malah berakibat lain, beberapa orang berteriak kepadaku dan mengira aku ikut membantu untuk mengeroyok lawan adiku. Kontan saja beberapa yang lain datang dan menarik tubuhku yang sebetulnya berusaha melerai keduanya. Karena tubuhku yang tak begitu besar, seseorang yang datang itu berhasil menarik dan menghempaskan aku ke tepi. Melihat itu, adiku berbalik menyerang anak lelaki yang berbadan lebih besar dari kami. Tanpa basa-basi ia melayangkan tinju dan pukulan ke arahnya, kontan saja anak lelaki yang tak siap itu jatuh terduduk dan mengaduh kesakitan.


Pemandangan selanjutnya malah berubah makin kacau, beberapa teman dari anak lelaki yang jatuh itu berusaha menyerang kami. Namun karena posisi makin tak imbang, beberapa rekanku yang kebetulan lewat dan melihatku langsung membantu dan terjadilah perkelahian massal. Ini benar-benar di luar dugaan, kalau ternyata perkelahian dua orang anak kecil berbuah tawuran. Enam orang lawan sebelas orang!


Karena ribut dan gaduhnya yang makin keras membuat pemilik kebun pisang kepok H. Nawa datang dan langsung lari tergopoh-gopoh. Kebiasaannya yang sering berteriak kencang seraya mengacung-acungkan goloknya sangat ampuh membubarkan kekacauan ini. Entah apa yang ada di fikirannya, yang jelas ia sering melakukan itu bila ada pencuri yang berusaha mencuri pisang-pisangnya. “Hayooo, pada pergi tidak! Saya bacok satu satu nih…”


Demi melihat Pak H. Nawa seperti itu, kamipun berpecar menyelamatkan diri masing-masing. Ruby menarik lenganku untuk dapat segera menjauh dari kebun pisang kepok ‘angker’ itu. Beberapa anak yang lain malah lebih dulu lari tunggang langgang dengan beberapa kali jatuh tersungkur karena menabrak pohon-pohon pisang. Beberapa saat kemudian kamipun telah terjarak jauh dari kebun pisang kepok H. Nawa yang super galak itu. Sesaat aku menarik nafasku yang terengah-engah menahan lelah, sementara kaki dan tanganku kian gemetar. Ruby malah lebih parah daripada aku, siku tanganya nampak terluka, darah mengucur deras darinya.


“Kenapa harus seperti itu sih, Rub?”

“Mereka duluan, Mas?” kata adiku seraya mengelap darah yang masih mengucur dari siku lengannya. “Mereka main buang sepatu orang saja, mentang-mentang sepatuku sudah ‘mangap’ begitu.”


Aku melirik sepatu adiku yang memang sudah tak layak disebut sepatu itu. Beberapa jari kakinya malah keluar seakan menunjukan protes kalau mereka minta diperhatikan secara layak. Melihat itu, marahku mendadak hilang. Entah mengapa adiku masih bisa menjunjukan kondisi sepatu seperti itu dengan tenang, sepertinya ia tak merasa terganggu dengannya. Seingatku anak seusianya pasti sudah mogok ke sekolah dengan kondisi sepatu seperti itu.


“Tapi khan tidak harus sampai berkelahi seperti itu, Rub…”

“Saya sudah minta baik-baik, Mas. Tapi mereka malah makin jadi, sepatuku di buang di atas genteng sekolah. Yaa, maaf saja kalau salah satu dari mereka harus berkenalan dengan bogem mentahku,” Ruby makin menjelaskan duduk permasalahan.

“Tapi jadinya khan kaya gini, lihat sikut kamu itu!” kataku agak keras, “apa kata Mimi nanti lihat kamu seperti itu?”


“Ruby juga maunya tidak seperti ini Mas, tapi mereka memang perlu dikasih pelajaran. Sudah membuang sepatuku ke genteng, tidak mau minta maaf malah pakai ngejek Mimi segala… katanya sudah tukang rombeng buta huruf lagi!” Ruby makin menunjukan rasa kesalnya. Mendengar semuanya itu, akupun sedikit membenarkan kalau apa yang dilakukan Ruby adalah tepat. Ini sudah menyangkut harga diri dan martabat keluarga, terlebih lagi ia berbicara tentang ibu. Seseorang yang paling berharga dan berarti dalam kehidupan kami, tak seorangpun berhak untuk menghina ibuku. Siapapun itu!


“Sudahlah, ayo kita cari tanaman singkong pagar!” kataku seraya beranjak dari tempat kami beristirahat dari lari. Tepatnya di kampung Sepakat, seingatku kampung disini masyarakatanya masih gemar bercocok tanam, berbeda dengan kampung Pesisir yang kebanyakan nelayan. Beberapa kebun kecil disamping atau di depan rumah mereka lebih banyak jemuran ikan daripada tanam-tanaman. “Di depan sana ada tanaman singkong pagar, mungkin kita bisa minta beberapa lembar daunnya.”

“Daun singkong, buat apa Mas?”


“Sudah ikut saja!” ajaku seraya berjalan ke sebuah rumah tua yang menggambarkan pula pemiliknya. Seingatku rumah ini kepunyaan Pak H. Shaleh, guru ngaji kampung ini. Muridnya banyak dan terkenal sangat baik pada siapa saja, itu pula yang membuatku berani untuk masuk ke dalam pekarangannya.

“Assallamu ‘allaikum…”

Tidak ada jawaban, suasananya sangat sepi. Mungkin penghuni rumah tua ini sedang keluar. Namun setelah beberapa kali aku berteriak, seorang wanita paruh baya keluar dari bilik pintu yang tingginya mencapai 2.5 meter itu.

“Wa allaikum sallam… siapa yah?”

“Maaf Bu, saya cuma mau minta daun singkong pagarnya?” kataku ragu-ragu. Sesaat perempuan paruh baya itu menatapku lekat-lekat, entah apa yang ada dalam fikirannya.


“Daun singkong pagar? Buat apa, Cung? Itu tidak bisa dimakan, kalau lapar nanti biar ibu ambil makanan yah…”

“Tidak Bu, tidak usah terima kasih. Kami cuma mau daun singkongnya, kami buru-buru mau pulang sudah ditunggu ibu,” kataku mencoba menolak.

“Ohh, ya sudah. Silahkan ambil sendiri yah, Ibu masih ada keperluan di dapur,” katanya kemudian seraya masuk kembali ke dalam rumah.

“Terima kasih, Bu,” akupun segera memetik beberapa lebar daun singkong pagar yang memang beracun dan tidak bisa dikonsumsi itu. Sementara Ruby hanya diam memperhatikanku, ia memang tidak tahu apa yang sebenarnya tengah kurencanakan.


Setelah kupilih lembar-lembar daun singkong yang muda dan bersih, aku segera menaruhnya di atas sebuah batu yang agak pipih. Kemudian dengan batu yang lebih kecil daun itu aku tumbuk hingga halus, seperti membuat adonan. Getah dan cairan yang keluar dari daun-daun singkong itu seperti membuat tepung hijau yang lengket. Setelah kurasa agak halus, tumbukan daun singkong pagar itu segera kubalurkan pada luka Ruby. Sikutnya yang terkoyak dan masih terlihat mengeluarkan darah itu seketika tertutup adonan hijau buatanku. Setelah itu aku mengambil beberapa daun pisang dan membungkusnya dengan bantuan tali pelepahnya yang sudah kering.


“Ini buat apa, Mas?”

“Sudah biarkan saja, kita masih punya waktu dua jam sebelum Mimi pulang ke rumah. Mudah-mudahan ini dapat menghentikan pendarahannya,” kataku penuh harap. Ilmu pengobatan alam itu kudapatkan dari beberapa warga di kampungku yang sering memanfaatkan daun singkong pagar atau air liur bekicot bila ada bagian tubuh yang terluka atau robek. Katanya ini menghentikan aliran darah yang keluar, sehingga mengurangi rasa pusing dan lemas. Memang kalau air liur bekicot khasiatnya sangat cepat dibandingkan dengan tumbukan daun singkong pagar, akan tetapi air liur bekicot terasa sangat perih di area luka. Itulah mengapa aku lebih memilih tumbukan daun singkong pagar untuk mengurangi pendarahan siku lengan Ruby.

“Memang ini bisa bekerja, Mas?” Ruby masih kurang yakin dengan upayaku menghentikan darah yang masih mengucur dari lengannya.


“Sudah biarkan begitu, daripada aku harus membalurkan air liur bekicot yang perih. Mau kamu?” kataku separuh menakut-nakuti. Ruby hanya nyengir menanggapi ucapanku. Sebetulnya bukan luka itu yang membuatku sampai sedemikian peduli pada Ruby. Seingatku ia terluka karena kelakuannya yang tidak bisa menahan emosi, dan itu pelajarannya. Akan tetapi, aku khawatir dengan Ibuku. Ibu sangat cemas dengan apapun yang menimpa Ruby, anak bungsunya. Sekecil apapun yang terjadi pada Ruby, sudah cukup bagi ibu untuk menghukum kami semua.


Waktu menunjukan pukul setengah tiga ketika kami menyusuri gang tempat kami tinggal, sesaat kekhawatiran menelusup di hati kami. Bila ibu sudah lebih dulu sampai di rumah, dan melihat kondisi lengan Ruby yang masih terbungkus tumbukan daun singkong pagar, wah bisa runyam urusan. Suasana rumah masih sepi, berarti ibu dan kedua kakaku masih sibuk dengan aktifitas mereka. Aku dan Ruby segera bergegas memasuki rumah yang hanya dikunci pakai gembok kecil, ibu biasa menyembunyikan anak kuncinya di atas lubang angin-angin.

“Mereka belum pada pulang,” desisku meneliti seputar rumah, “semoga saja lukamu segera mengering…”

“Sudah ngga sakit lagi koq Mas,” Ruby berkata seraya mengoyang-goyangkan sikunya.


“Eeeh, jangan banyak bergerak dulu. Lukanya belum kering benar, nanti darahmu ngucur lagi,” seruku penuh khawatir. Ruby memang sedikit bandel, anaknya juga tidak gampang cengeng. Namun bukan itu permasalahannya, aku tak mau luka itu terlihat oleh ibu!

“Tenang aja, Mas. Ibu ngga akan marah, khan Ruby juga ngga apa-apa?” katanya lagi seraya nyengir tanpa beban. Dasar bandel! Kalau diperhatikan lekat-lekat, Ruby lebih mirip almarhum Rossi dari pada aku kakaknya. Aah, aku jadi ingat preman kecil itu, pasti ia sekarang sedang ngamen di surga…


Seperti biasanya, setiap pulang sekolah, tugasku kini adalah mengurus dan menjaga Ruby. Setelah kasus kecelakaan Rossi, kami memang tak lagi main dan mencari uang di stasiun. Ibu melarang keras untuk hal ini. Ia sampai menitipkan kami pada Pak Djarot – petugas stasiun - , agar mengusir kami bila mendapati kami. Oleh karenanya, kami benar-benar tak berani lagi menentang amanah ibu.


Aku menyiapkan makan siang dan mengganti pakaian Ruby, posisi bungsunya kadang membuatnya agak manja. Ia tak mau makan kalau tak ditemani, dan tak segera mengganti baju seragam kalau tak diingatkan. Berhubung hari itu, banyak bercak darah yang menempel di seragam Ruby, aku harus segera merendam dan mencucinya. Itu bisa jadi barang bukti, dan membuat ibu kecewa. Setelah kuselesaikan semua tugas rutin mengurus dan menjaga Ruby, kami berduapun terlelap dalam tidur siang kami.

******

“Harist, sini!” suara ibu terdengar agak keras dari tempatku berdiri.

“Saya Mi,” kataku segera menghampirinya.

“Mimi mau tanya, siang tadi kamu tidak pulang bareng dengan adikmu?” nada bicara ibu terdengar tegas, sorot matanya juga seakan penuh selidik.

“Ba.. bareng koq Mi, memang ada apa?”

“Kamu ngga perlu bohong sama Mimi, inget Mimi paling ngga suka dengan anak yang tidak jujur…”


“Bener koq, Mi, Harist ngga bohong…”

“Kalau kamu pulang bareng, kenapa kamu biarkan adikmu berkelahi?” wajah ibu terlihat sangat kecewa, aku tak pernah melihatnya sedemikian marah padaku.

“Anu… Harist…”


“Dengar ya Rist, sudah berapa kali Mimi bilang, biasakan mengalah! Jangan cari masalah, ajari adikmu untuk tidak bertindak sesuka hatinya. Kamu khan sudah besar, lebih dewasa dari adikmu, masa kamu ngga bisa membimbingnya. Sebentar lagi kamu lulus SMP, banyak tugas dan tanggung jawab yang harus kamu pikul sebagai anak laki-laki. Bagaimana kamu tunjukan kalau kamu siap menghadapi semuanya itu, kalau mengurus dan menjaga adikmu yang satu saja tidak bias…” kalimat ibu panjang sekali. Setidaknya pengalaman perkelahian Mas Adi memang membekas sekali di hati ibu. Ia tak mau kasus bentrok dua keluarga hanya gara-gara perkelahian anak-anaknya terulang kembali.


“Maafkan Harist Mi,” kataku pelan, “Harist tidak bisa menjaga amanah Mimi…”

“Perkaranya bukan hanya sekedar minta maaf, Rist. Akan tetapi ini merupakan wujud kepercayaan yang Mimi berikan padamu sebagai seorang kakak. Kalau tidak kamu laksanakan dengan baik, lalu pada siapa lagi Mimi harus menitipkan Ruby?” ibu masih mengeluarkan kalimat kekesalannya. Ini tidak biasa terjadi pada ibu, biasanya setelah kami anak-anaknya mengaku dan meminta maaf, marahnya akan berhenti. Namun entah mengapa kesalahanku itu seperti yang sangat besar sekali bagi ibu, hingga air mataku berlinang, ibu tetap menunjukan ekspresi kesalnya.


“Maafkan Harist Mi…”

Ibu menatapku dengan pandangan lurus ke arahku.

“Harist janji tidak akan membiarkan ini terjadi lagi…”

Ibu masih tetap diam.

Melihat itu, Ruby yang sedari tadi hanya bersembunyi di kamar Mbak Atin, tiba-tiba keluar dengan kalimat terisak, “maafin Mas Harist Mi. Mas Harist ngga salah. Ruby yang salah…”


Ibu menoleh ke arah Ruby yang keluar dengan kedua tangan mengepal di dada memohon maaf…

“Ruby yang tidak menunggui Mas Harist untuk pulang bareng. Ruby juga yang terpancing untuk berkelahi, masalahnya…”

“Ruby, Mimi khan sering bilang, biasakan pulang bareng kakakmu. Biasakan ngalah dengan teman-temanmu, itu lebih baik dari pada harus berurusan panjang…”

“Tapi Mi, mereka…”

“Pokoknya sampai kapanpun, Mimi tidak pernah setuju dengan perkelahian. Mimi tidak senang dengan anak yang suka berkelahi…” ibu menunjukan ketegasan sikapnya.

“Ruby tidak salah Mi, Harist juga tidak salah,” Mbak Atin keluar dari dapur dan bergabung di acara siding ini, “Ruby hanya mempertahankan harga diri…”


“Mempertahankan harga diri dengan berkelahi, apa maksudnya itu?”

“Mereka bukan saja mengejek sepatu usang Ruby dan membuangnya ke genteng sekolah, akan tetapi ia juga menghina dan melecehkan Mimi…”

“Dari mana kamu tahu kalau kejadiannya begitu, omongan anak sekecil Ruby tidak bisa dijadikan dasar dalam hal ini…”

“Ruby ngga pernah bohong Mi, Mimi juga tahu itu,” Mbak Atin mencoba menegaskan apa yang ia tahu dan ia yakini.


Mendengar itu, ekspresi ibu mulai berubah. Alisnya tak lagi ditarik ke atas, meski ia tak tersenyum seperti biasanya. Rupanya ucapan terakhir Mbak Atin mengena di hati ibu.

“Meskipun begitu, Mimi tetap tidak suka perkelahian,” kalimat ibu mulai melunak, “Mimi percaya kalau kalian semua bisa berkelakuan baik. Namun akan menjadi percuma kalau kalian terpancing untuk ikut dalam sikap seperti itu.”

Semua diam, aku, Ruby dan Mbak Atin hanya bias menunggu kalimat ibu selanjutnya.

“Yaa sudah, Harist ajak adikmu tidur sudah jam sembilan malam. Tin, mana Puji dia belum pulang dari rumah Wawa Rokh?”

“Belum Mi, mungkin sebentar lagi…”

“Yaa sudah, kalau ngga ada yang perlu dikerjakan lagi, kamu juga istirahat. Besok masih harus ke sekolah khan?” Mbak Atin tersenyum. Ia sudah hampir lulus SMEA, satu lagi beban ibu akan terkurangi setelah Mas Adi yang lulus tahun lalu dan kini bekerja di Bangka.


Sepeninggal kami, ibu kembali tercenung. Entah apa yang sedang difikirkannya. Aku melihatnya jelas dari ruang dapur ini. Ibu seperti tengah memikirkan sesuatu yang berat yang tak bisa ia bagi pada kami anak-anaknya. Aku merasa kalau ibu tengah kelelahan yang amat sangat, meski ia tak ceritakan itu pada kami. Wajah ibu terlihat lebih pucat dari biasanya, beberapa surai rambut yang menggelantung di kepala bagian depannya seakan mewakili kelelahan itu. Tubuh ibu juga terlihat lebih kurus, terakhir kudengar kalau ia terkena gejala typus karena terlalu lelah berkeliling kampung menjajakan pakaian-pakaian bekas.


“Ibu sudah terlalu capek dan lelah, semestinya aku memang tak boleh menambahi beban fikirannya,” ucapku membathin seraya melangkah masuk ke kamar. Ruby sudah pulas dalam tidur, meski begitu keningnya nampak berkerut. Mungkin dalam tidurnya iapun masih melanjutkan perkelahian membela harga diri keluarga.


Kasihan Ruby, sejak kelas satu ia tak pernah mendapatkan sepatu baru, semuanya warisan. Kalau tidak bekasku pasti bekas Mas Adi. Setidaknya, karena akupun begitu, sebagai anak yang lahir belakangan memang harus rela dengan kenyataan seperti itu. Aku tahu, itu bukan karena ibu tak mau membelikan kami sepatu baru masing-masing. Akan tetapi semuanya ini karena keterbatasannya mencukupi semua kebutuhan ini. Aku masih bersyukur, meskipun bekas aku masih bisa ke sekolah memakai sepatu. Namun kalau sepatu bekas itu harus terwaris pula ke Ruby… ah!

“Eeeh, jangan menghina ya! Ini sepatu baru tahu! Nih lihaat…,” Ruby mengigau lirih dalam tidurnya, “ngga kalah dengan sepatu kalian khan?”


Aku bangun terduduk dari rebahanku, sesaat kuperhatikan wajah polos adiku. Matanya yang sipit masih terpejam. Rupanya permasalahan sepatu ini sudah sedemikian seriusnya dalam kehidupan adikku, sampai-sampai ia harus bermimpi tentang itu. Perlahan aku usap kepala botak adiku, ibu memang selalu mencukur kami berdua dengan potongan cepak tintin[1]. Biar seperti ABRI, katanya. Entah itu sebuah keinginan atau memang ibu berharap kalau kelak suatu saat dari rahimnya lahir seorang anak bangsa yang akan mengangkat harkat dan derajatnya dengan menjadi abdi dan alat negara.


“Kalau Mas Harist punya rezeki, Mas janji akan membelikan sepatu untukmu, Dek…” ucapku lirih seraya mengembalikan selimut Ruby ke posisinya.

Malam mulai bergelayut. Hitam pekatnya juga mulai mewakilkan kesunyian pada alam, hingga menyisakan suara-suara malam yang tengah berotasi dan berdzikir mengagungkan asma Allah. Angin yang berhembus semilir, jangkrik yang mengalunkan melodi sendu, hingga jutaan bintang yang beredar dan berkelip atas sabda-Nya. Banyak hikmah dan juga isyarat bagi siapa saja yang mau sejenak menyelaminya. Tentang Keagungan, tentang Kebesaran dan juga Kekuasaan atas segala sesuatu. Yah, setiap malam yang hadir hakekatnya adalah menyampaikan beragam tanda kekuasaan-Nya pada alam semesta, tak terkecuali semua makhluk hidup yang ada di dalamnya. Oleh karenanya, bagi sebagian orang, saat malam justru waktu yang terbaik untuk mulai optimis terhadap segala sesuatu. Dengan tibanya malam, sebagian orang akan menjadikanya waktu yang tepat untuk meminta, waktu yang tepat untuk mengadu, dan juga waktu yang tepat untuk kembali pada kehakikian. Memasrahkan segala permasalahan pada yang Maha Segalanya, Allah SWT.


Itu kulihat juga pada ibu, meski seingatku waktu istirahat ibu hanya sedikit. Pun ketika kelelahan amat sangat ia rasakan, ibu senantiasa menyambut malam dengan senyum dan tenang. Ibu selalu berseri untuk bangun di sepertiganya, dan mulai memasrahkan segala keluh kesah dalam hidupnya. Setahuku, ibu jarang absen menikmati malam, meski kenyataannya hidup ibu jarang sekali senang. Keseharian ibu tak pernah lepas dari keringat dan air mata, namun ia tetap khusyuk dan ikhlas berdoa di penghujung malamnya. Entah kenikmatan apa yang ibu rasakan dari kegiatan seperti itu, entah kedamaian apa pula yang ibu dapat dari kesunyian seperti itu. Ketika dikenyataannya, kesusahan dan kesengsaraan adalah teman akrab hidupnya…


“Allah, tiada tuhan melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (mahluk-Nya); tiada mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang memberi syafaat di sisi Allah tanpa seizin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah merasa tidak berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar…” [2] suara lirih itu sering kudengar tiap malam. Meski sejujurnya aku tak begitu sering melafadzkannya, namun selalu ada ketenangan dan kedamaian yang hadir di hatiku setiap kali aku mendengarnya. Ah, mungkin itu keistimewaan malam bagi ibu, meski dengan kondisi susahnya, berdoa di sepertiga malam membuatnya tenang dan damai. Mungkin itu pula yang membuat ibu tak pernah bosan meminta, meski yang kutahu Allah tak segera memberi….

******


Cuaca siang itu sangat terik, kemarau tahun ini terasa sangat panjang sekali. Pepohonan di kanan kiri jalan juga seakan menggambarkan kondisi panasnya, itu kulihat dari daun-daunya yang berguguran. Sebagian pohon malah hanya tersisa ranting-rantingnya saja. Pemandangan seperti itu semakin melengkapi kegersangan hati kami dari siraman sejuk kasih sayang seorang bapak. Aku dan Ruby menatap getir pada sepasang anak-bapak yang berjalan penuh gembira. Sang bapak nampak menunjukan sayangnya dengan membawa beberapa sepatu baru dari etalase toko, sementara sang anak menunjukan kegembiraannya dengan tersenyum dan memilih-milih beragam model sepatu yang ada di hadapannya. Aku dan Ruby tak bisa menghindar untuk tidak melihat pemandangan seperti itu, karena toko kecil penjual sepatu itu berada tepat di tempat ibu mangkal dan berjualan pakaian bekas di hari Minggu ini.


Ingin rasanya aku segera memalingkan muka dan berlari dari pemandangan seperti itu, namun langkahku terhenti ketika kutangkap tatapan harap dari Ruby. Ia malah mendekat dan menempelkan jari tangannya di barisan sepatu yang terpajang di etalase. Meski kutahu ia sangat iri dengan apa yang dilihatnya, namun sedikitpun tak kulihat wajah memelas dari Ruby. Ia malah nyengir seperti tanpa beban. Aku jadi bingung harus berbuat apa, mengajaknya pergipun rasanya susah kalau sudah begitu.


Tatapan Ruby masih terus berkeliling diantara dua anak-bapak dan barisan sepatu, ketika seorang lelaki kurus pendek menghampirinya. Penampilannya rapi hanya saja wajahnya tak begitu simpatik ke arah kami. Ia terlihat begitu serius memperhatikan kami, khususnya Ruby. Adiku yang sedikit konyol itu memang sepertinya tak sadar, ia berjalan masuk ke dalam toko. Dengan pakaian yang agak kumal serta sandal jepit yang tebalnya sudah hampir menyentuh tanah, pastinya akan menjadi pusat kecurigaan. Dan itu pastinya bagi lelaki kurus dan pendek tadi. Ia terlihat mulai cemas dan gusar dengan tingkah adiku yang terlalu terpesona dengan barisan sepatu baru.


“Heh, anak-anak! Mau apa kamu ke dalam?!” tanyanya agak kasar.

“Saya mau melihat-lihat, siapa tahu ada yang cocok untuk dibeli,” kata adiku dengan santai. Untuk ukuran sembilan tahun, sebenarnya ini terlalu berlebihan. Mana mungkin ia punya uang seharga sepatu-sepatu mahal itu.

“Memang mau cari model yang bagaimana?” lelaki kurus itu masih menatap penuh curiga. Sementara aku yang bingung hanya bisa mengikuti langkah adiku yang terus berjalan menikmati pemandangan.

“Yang pasti yang bagus, dan cocok untuk kaki saya,” kata Ruby enteng. Sementara lelaki kurus tadi makin terlihat kesal dengan gaya adiku, apalagi ketika ia melihat kondisi sandal jepit kami.


“Memangnya yang seperti apa, bisa dijelaskan lebih rinci?”

Mendengar itu, aku langsung ciut. Aku yakin Ruby tak tahu apa-apa tentang model sepatu. Sepanjang yang kutahu, sepatu yang ia pakai saja selalu warisan, itupun hanya satu model ; Warior.

“Begini, saya ingin sepatu dengan lapisan bawah seperti ban radial, bagian dalam yang empuk dan nyaman, kemudian kulit luarnya harus yang asli, kalau tidak salah mereknya ; Butterfly. Ada tidak?”


Lelaki kurus itu menaikan alisnya, tebakanku ia pasti bingung dengan ucapan asal-asalan Ruby. Tangannya yang kurus juga terlihat menggaruk-garuk kepalanya yang berambut klimis. “Kalau yang seperti itu rasanya ngga ada, disini yang ada merek Warior, ATT, Batta, Pumma, Belly“ katanya kemudian, “tapi kalau yang mereknya mirip-mirip Butterfly ada, tuh merek Dragonfly, tapi itu sepatu karet bukan sepatu gunung atau sepatu hansip…”

“Kalau begitu toko sepatu ini tidak lengkap, kita cari di tempat lain saja yuk Mas,” dengan entengnya Ruby melenggang meninggalkan toko sepatu ini. Masih dalam keadaan bingung, akupun hanya bisa mengikutinya. Sementara kulihat lelaki kurus itu hanya diam dan menatap kami dengan kesal.


Sesampainya diluar, aku langsung menarik lengan adiku dan kubawa segera menjauh dari toko sepatu itu. Aku tahu, baru saja Ruby telah menggoda dan mengerjai pelayan toko sepatu tadi. Setelah agak jauh, aku baru melepaskan peganganku. “Kamu suka cari masalah yah? Ketahuan Mimi, kena marah lagi nanti…”

“Wah Mas Harist ini, yaa jangan sampai ketahuan doong…”

“Kamu ini memang bandel yah!”

“Mas, kita ini khan ngga mungkin mampu membeli sepatu mahal di toko itu, jadi boleh khan kalau sedikit berkhayal?”


“Tapi tidak keterlaluan seperti itu, Rub,” aku mulai jengkel dengan sikap adiku, “kalau pelayan tadi tahu kamu mengerjainya, kamu bias habis dijewer tahu!”

“Tenang aja Mas, ngga akan tahu!” seru Ruby ringan, “wong merek sepatu yang dicarinya juga pasti ngga ada, koq…”

“Ngga ada? Maksud kamu?”

“Butterfly itu merek mesin jahit, kalau sepatu yaa memang Dragonfly, he he he…,” Ruby terkekeh senang. Ia merasa menang.


“Kamu itu, kecil-kecil sudah badung!” kataku yang langsung menjewer telinga claprang[3]-nya. “Ayo cepat, kita ke Pasar Talang. Mimi pasti sudah menunggu…”

Ruby tertawa riang, dia tahu kalau aku takan berani mengadukan semuanya ini pada ibu. Dan kenyataannya bukan saja aku tak berani mengadukan kejadian tadi siang pada ibu, akan tetapi akupun tak berani untuk sekedar mengingatnya. Mungkin Ruby menganggap sepele hal itu, ia masih terlalu kecil untuk memahami arti susah dalam hidup. Namun lain halnya denganku yang selama ini selalu belajar untuk menahan diri dan bersabar dengan segala kenyataan yang ada. Terlebih kalau kuingat igauannya tentang sepatu, itu akan membuatku makin miris, ah andai saja aku punya uang…


“Suwe nemen, Cung!” [4]seru ibuku ketika melihat kedatangan kami, “rumahnya sudah dikunci?”

“Sampun, Mi,” [5]jawabku pelan. Hari libur seperti ini, kami memang diminta ibu untuk membantunya berjualan pakaian bekas. Karena di hari Minggu suasana pasar biasanya sangat ramai, dan ibu agak kewalahan kalau harus meninggalkan barang dagangan tanpa ada yang menjagai. Dengan kehadiran kami, ia bisa sedikit bepergian untuk sekedar sholat dzuhur atau beli nasi bungkus.


“Naah, sekarang tungui daganganya yah, Mimi mau sholat dulu,” katanya seraya langsung berdiri dan meninggalkan lapak pakaian bekasnya. Ibu berjalan agak tertatih, mungkin persendiannya agak terganggu. Ibu memang tak seperti dulu ketika berjualan sayur, pasca jatuh tersungkur kesehatannya memang agak terganggu. Beruntung mulai minggu kemarin, ibu dapat pinjaman lapak pakaian bekas dari Yu Darti, jadi tidak perlu muter-muter keliling kampung lagi.

“Kasihan Mimi, ya Mas…”


Aku tersenyum menanggapi ucapan Ruby, rupanya ia juga memperhatikan apa yang aku perhatikan.

“Kalau saja bapak bisa pulang dan membawa uang banyak…”

“Bapak lagi nyari duit, Rub. Nanti juga pulang, doakan saja supaya banyak rezeki dan selalu sehat,” kataku yang tak ingin terjebak dengan perbincangan sendu. Aku sudah kenyang dengan kisah bapak, harapanku mudah-mudahan masalahnya bisa segera selesai…

“Eh, Mas…,” Ruby nampaknya masih ingin berbincang denganku, “Mas Harist lihat ngga, sepatu yang dipilih anak tadi?”

“Lihat, emang kenapa?”

“Ruby ingin sepatu seperti itu, Mas,” kalimat Ruby melambat penuh harap,”kalau saja Mimi punya uang…”


Aku langsung mengusap kepala botak adiku cepat-cepat, aku tak ingin ia terlena dengan keinginanya. Ini lebih baik, dari pada terjebak pada lamunan dan angan-angan. Bayangkan saja, harga sepatu kulit yang Rp. 15.000,- mana sanggup ibu…

“Kenapa sih Mas, aku ngga boleh ya punya keinginan seperti itu?”

“Bukan ngga boleh, tapi sebaiknya jangan terlalu berkhayal! Buat kita sepatu karet yang Rp. 3.500 saja sudah bagus tahu, itupun entah kapan Mimi punya uangnya…”

“Kalau saja kita masih bisa berjualan di stasiun seperti dulu…”

“Stasiun sudah terlarang untuk asongan Rub, sekarang sudah banyak kios yang menjual segala macam di sana. Lagipula, mana mungkin kita melanggar janji kita sama Mimi…”


Ruby manggut-manggut menyelami ucapanku, “terus bagaimana caranya supaya kita bisa mengumpulkan uang untuk beli sepatu baru ya, Mas?”

“Berdoa saja, semoga ada rezeki untuk anak seperti kita,” kataku sambil tersenyum, sementara Ruby nampak terdiam lesu. Aku tahu, ia pasti kecewa dengan ucapanku. Tapi memang hanya itu yang seharusnya ia lakukan…

*******


Sudah hampir maghrib, tubuhku rasanya sudah remuk redam. Persendian tulangku juga seperti patah-patah. Sesekali aku hitung pak-pak asem jawa yang kubungkus sejak siang tadi. “Semuanya berjumlah lima lusin, kalau selusinya aku dapat upah Rp. 40,- berarti aku sudah dapat Rp. 200,- hari ini,” gumanku dalam hati, “ berarti ngga sampai tiga minggu aku sudah bisa mengumpulkan Rp. 4.000,- itu cukup untuk beli sepatu karet untuk Ruby…“

“Alis… kalau udah selesei, cepa’ diwelesin ha..,”[6] perempuan berkulit putih itu mengejutkan lamunanku, “sewental lagi maglib, nanti olang luma nyali-nyali..”[7]


“Ya, Ci. Ini juga lagi diberesin, tinggal mengumpulkan yang sudah di pak,” kataku pada Taci Meylin. Sudah tiga hari ini aku memang memutuskan untuk bekerja padanya setiap pulang sekolah. Dengan alasan ada les menjelang ebtanas, aku bisa bebas melenggang tanpa harus diikuti Ruby.

“Welapa hali ini[8], jumlah asem yang di pak?”

“Lima lusin Ci, “ kataku seraya menyodorkan pak-pak asem jawa yang sudah diberi merek ‘Asem Jawa Meylin’.


“Upahnya mau diambil sekalang atau nanti, Lis?”

“Nanti saja Ci, saya sedang mengumpulkan uang untuk keperluan khusus, kalau diambil takut kepakai,” kataku penuh yakin, “nanti saja kalau sudah sepuluh hari akan saya ambil.”


“Aah, woleh woleh lah, itu wagus…,” [9]Taci Meylin tersenyum mendukung semangatku. Perantau dari Bagan Siapi-api ini memang terkenal ulet, bersama suaminya ia tergolong berhasil di tanah rantau ini. Namun meskipun begitu mereka tetap berhemat dalam hidup. Setahuku mereka sering hanya mengkonsumsi bubur untuk makan sehari-hari. Lauknya juga kadang hanya telur yang dibagi dua.

“Saya pamit dulu ya Ci,” kataku menutup jam kerjaku hari ini. Selain aku sebetulnya ada tiga orang lagi yang bekerja, namun mereka mengambil jatah hanya sampai siang atau ashar. Sedang aku dari siang hingga maghrib, aku ingin segera bisa membelikan sepatu untuk Ruby…


Aku belum sempat masuk ke dalam ruangan kelas, ketika tiba-tiba Bu Saonah memanggil namaku. Perempuan paruh baya yang sering mengajar IPS dan Sejarah itu nampak cemas menatapku, entah apa yang terjadi.

“Kamu kakaknya Ruby, khan?”

“I.. iya, Bu. Ada apa dengan Ruby?”

“Dia ada di ruang P3K, cepat kesana, dia manggil-manggil kamu terus,” katanya separuh serak, “dia ngga mau diobati sebelum kamu datang…”

“Diobati, memang Ruby kenapa?”

“Sudah nanyanya nanti lagi, sekarang cepat kesana saja dulu!”


Akupun tak lagi diam, langsung kuayunkan kakiku menuju kamar sakit di lingkungan sekolah itu. Di sana nampak Ruby yang tengah dikerumuni beberapa guru dan dokter kecil, meski tak terdengar menangis namun erangan kesakitannya nampak jelas.

“Ada apa dengan adik saya, Bu?” tanyaku pada Bu Nia guru olah raga kami.

“Adikmu kecelakaan sewaktu main bola, kuku kakinya terkelupas,” Bu Nia mencoba menjelaskan, “kami bermaksud mencabut dan mengkompresnya agar tidak infeksi dan menjadi koreng. Tapi dia ngga mau sebelum kamu datang…”


“Mass… kaki Ruby sakiit…,” adiku mulai mengerang. Kalau saja di rumah ia pasti sudah menjerit sejadi-jadinya, namun di sekolah ini rupanya ia tahu diri. Padahal kuku jempol kakinya benar-benar terangkat dan nyaris lepas dari tempatnya.

“Kamu main bolanya ngga hati-hati yaa..,” kataku mencoba menghibur.


“Itulah adikmu Rist, yang lain pakai sepatu, eeh… dia nekat telanjang kaki. Giliran nendang batu, yaa begini jadinya,” Bu Nia yang olahragawati itu terus berkomentar seolah tak mau disalahkan.

“Dia memang begitu, Bu,” kataku pelan. Jauh di lubuk hatiku aku tahu mengapa Ruby tak mau mengenakan sepatu ketika main bola. Bagian depan sepatunya baru saja dijahit untuk yang ke lima kalinya, kemarin sore. Aku yakin, Ruby berfikir kalau ia harus bisa menghemat kondisi sepatunya, karena kalau sampai jebol lagi entah apa masih mungkin di jahit untuk yang keenam kalinya.


“Naah, sekarang khan Mas Haristnya sudah datang, kita cuci lukanya ya?” seseorang berpakaian putih-putih nampak menghampiri kami. Dia Bu Marni, selain guru ia juga duta kesehatan untuk sekolah kami. Mungkin karena suaminya seorang manteri kesehatan, jadi ia sedikit mengerti cara-cara pengobatan.

Ruby menatapku, jelas ada rasa takut disana. Dengan kondisi kuku kaki yang terangkat hingga 60 derajat aku yakin siapapun akan merasa kesakitan. Namun dengan membelai kepala botaknya, aku mencoba menenangkan Ruby agar mau menuruti Bu Marni.


Perlahan kaki Ruby diguyur dengan air hangat, pasir-pasir yang menempel diantara darah ujung kakinyapun mulai berjatuhan. Terus begitu hingga guyuran yang ketiga, Ruby masih berusaha menahan sakit. Namun ketika Bu Marni menguyurkan cairan yang katanya mengandung alcohol untuk mencegah infeksi, wajah Ruby mendadak berubah, dan…

“Waa… Mimii…,sakiit!!! Sakit sekalii!!!”

“Tahan-tahan Dek, cuma sebentar…,” aku terus mencoba menenangkan Ruby yang sudah kelojotan menahan perih.

“Pulaangg!!! Ruby mau pulaaang… Mimii…!!!”

********

“Carikan saja yang bekas di Pasar Talang, Mi. Yang penting khan Ruby bisa dapat sepatu yang agak bener ke sekolah,” Mbak Puji nyeplos dengan santainya.

“Mimi juga maunya gitu Nok, tapi selama ini Ruby memang belum pernah dibelikan sepatu baru. Jadi kalau dia ngambek dan hanya mau dibelikan yang baru, yaa wajar,” kata ibuku menerawang, “Mimi juga inginnya nagsih Ruby dengan yang baru, Nok. Kasihan si bungsu itu, apa yang dipakai semuanya serba warisan. Baju, celana, buku, alat tulis, sepatu, sampai mainan saja juga warisan.”


Semua terdiam, kami memang merasakan perubahan yang sangat drastis sejak tragedy tenggelamnya kapal bapak. Kabar bapak yang tak jelas, kepulangan bapak yang entah kapan, hingga kiriman yang tak lagi menentu setiap bulannya. Kadang ibu hanya menerima seperempat dari biasanya, itupun tidak tepat pada awal bulan. Terkadang tidak sama sekali! Kami mendengar kalau bapak kerja serabutan sekarang, tidak seperti dulu lagi. Hidup di negeri orang dengan kondisi seperti itu pastilah tidak mudah. Pernah bapak berfikir untuk pulang saja ke Indonesia, namun dengan kondisi yang tak jauh lebih baik, ia memutuskan untuk tetap bertahan di Bangkok. Dan semua itu atas persetujuan ibu pula. “Tidak ada seorang istri yang menolak kedatangan suaminya, bagaimanapun kondisinya. Namun bila dihadapkan pada kenyataan bahwa masih banyak tanggung jawab yang harus dipikul untuk nafkah dan masa depan anak-anaknya, Mimi bisa apa? Selain pasrah dengan keputusan yang dipandang paling baik, demi kalian dan masa depan kalian…” begitu ucap ibu saat itu ketika kami tanya mengapa ia mengizinkan bapak untuk tidak segera pulang saja.


“Tapi Mi, Enji pernah liat, kalau di Pasar Talang yang bekas juga masih banyak yang bagus lho,” Mbak Puji menyabot kesenyapan, “tinggal bagaimana kita milihnya.”

Ibu mengangguk perlahan, dan tersenyum kemudian. “Mimi sudah coba itu, Nok. Tapi seminggu terakhir ini, Mimi tak menemukan sepatu yang cocok dengan ukuran kaki adikmu. Kalaupun ada kondisinya tak lebih baik dengan yang dipakainya sekarang…”

“Kalau beli yang baru, kira-kira berapa sekarang, Mi?” tanyaku ragu-ragu.

“Kenapa mau membelikan?” Mbak Puji cepat memotong.

“Yaa, ngga juga. Harist khan sudah ngga jualan asongan lagi,” kataku menyesali pertanyaan.


“Kalau hanya sepatu karet saja sih, ngga mahal Rist,” ibu tersenyum ke arahku, “Mimi sempat nanya, katanya untuk seukuran Ruby kisaran Rp. 3.500,- sampai Rp. 4.000,- an. Kalau saja dagangan Mimi sedang laku pasti harga segitu tidak begitu mahal, Rist…”

Obrolan malam menjelang tidurpun terhenti ketika suara Dunia Dalam Berita dari tv tetangga sebelah terdengar, itu pukul 21.00 tepat. Waktunya bagi kami untuk istirahat, terutama ibu. Meski kutahu ia tak langsung tidur pada jam sembilan, namun ibu biasa mengistirahatkan tubuhnya di kamar kecil yang paling belakang. Dengan duduk selonjor, ia biasa melipat dan memilah pakaian-pakain bekas yang akan ia jual kembali esok. Atau kalau tidak, ibu biasa mengerjakan pekerjaan yang tak sempat ia selesaikan kemarin atau tadi pagi, seperti menambal pakaian kami atau meracik lauk untuk sarapan kami esok hari. Ibu sudah sangat terbiasa dengan semuanya itu, makanya aku tak heran kalau ternyata ketika tengah malam aku masih mendengar suara-suara di dapur atau di kamar ibu. Dan yang paling khas dan selalu kuhapal setiap aku bangun untuk buang air kecil atau ingin minum adalah, suara lirih ibu yang berdoa dengan khusyuk di sepertiga malamnya.


“Yaa Allah, semoga Engkau tak menyia-nyiakan semua pengorbanan dan pengabdian ibu kami…”

******

“Mimi kemana?” tanyaku cemas.

“Ke puskesmas bawa adimu, Ruby,” perempuan gemuk tetangga sebelah ibu itu menerangkan, “ia juga titip pesen kalau kamu ngga usah menyusulnya, tunggu saja di rumah…”

“Memang Ruby kenapa, Mak?”

“Panas badannya tinggi sekali, sampai kejang-kejang jadi langsung di bawa ke puskesmas Pesisir. Sudah kamu tunggu saja di sini dulu, kalau mau makan sana ambil sendiri saja ke dapur…,” Mak Kusti nampak serius dengan ucapannya. Wanita Jawa yang disunting lelaki keturunan Tionghoa ini memang teman ibuku, ia sering terlibat jauh pada keluarga kami. Mungkin lebih tepatnya, peduli.


Ada apa dengan adiku yang bungsu itu, apakah luka di ujung kakinya infeksi? Seingatku, kemarin sudah mulai mengering, lalu kenapa lagi si Ruby? Beragam pertanyaan terus berputar di otakku, mencoba menemukan jawaban dari kondisi yang ada. Hingga hari menjelang sore, rupanya ibu dan Ruby belum juga kembali dari berobat. Dua orang kakak perempuanku juga ikut bingung menemaniku kini. Apa sebenarnya yang terjadi…

“Memang pergi ke Puskesmas mana katanya, Mak?” tanya Mbak Puji.

“Katanya sih yang di daerah Kongsi…”

“Tapi koq lama sekali yaa…”


“Apa lebih baik di susul saja, Mbak?” tanyaku ,” ini sudah pukul empat sore, seingat Harist, puskesmas khan bukanya hanya sampai jam dua siang.”

“Betul Rit, sebaiknya kita susul saja,” Mbak Atin setuju dengan usulku, “Ji, sebaiknya kamu tunggu di rumah saja, bersih-bersih hingga kami pulang…”

“Itu yang menjadi masalah khan, Mbak,” Mbak Puji berkata lagi, “kita nunggu di sini karena Mimi tidak nitip kunci sama Mak Kusti, bagaimana kita bisa masuk…”

“Mungkin Mimi simpan kunci di tempat biasa?”

“Sudah saya cari tidak ada,” kataku memotong kemungkinan.


“Sudah ditunggu saja, sebentar lagi juga pulang…,” Mak Kusti keluar sambil membawa sepiring ubi rebus, “niih, kalian makan ini saja kalau tidak mau makan di sini. Perut kalian khan belum di isi dari siang.”

Kami bertiga berpandangan, kami memang menolak dengan halus tawaran makan siang di rumah tetangga kami itu. Setidaknya kami memang tidak terbiasa untuk numpang makan di rumah orang lain, ibu kami sering memesankan hal itu pada kami. Sesusah dan selapar apapun usahakan untuk tidak makan dari dapur orang lain, selain kurang baik hal itu akan menjadi kebiasaan buruk.


Namun karena memang kondisi yang sangat darurat seperti itu, maka dengan berat hati kami menerima tawaran Mak Kusti. Kami makan ubi rebus itu sebagai pengganjal perut kami yang memang sudah sangat tak nyaman. Tak lama berselang, setelah satu butir ubi rebus kami makan, ibu dan Rubypun terlihat pulang. Kami bergegas untuk mohon pamit dan menghampiri ibu yang kerepotan menggendong Ruby…

“Ada apa dengan Ruby, Mi?” Mbak Atin langsung membantu memapah Ruby yang terlihat sangat lemah.

“Kata dokter puskesmas, luka di kaki Ruby terindikasi infeksi. Ia harus dirawat, kalau tidak akan berakibat fatal,” suara ibuku lemah.

“Terus mengapa tak dirawat saja, Mi?” tanya Mbak Puji.

“Mimi maunya begitu, tapi ketika sampai di rumah sakit, Ruby berteriak-teriak minta pulang dan tak mau dirawat,” ibuku menatap sendu pada wajah Ruby yang terbaring lemas. “Dia bersikeras untuk pulang karena…”


“Karena apa, Mi?”

“Katanya hari ini ia akan dapat sepatu, jadi dia hanya mau di rumah dan tak mau kemana-mana,” suara ibuku makin pelan dan terdengar serak menahan sedih.

“Memang sepatu dari siapa? Siapa yang akan memberinnya sepatu hari ini?” Mbak Atin terlihat celingukan ke arah luar rumah.

“Mimi ngga tahu, mungkin adikmu berkhayal kalau hari ini akan ada yang memberinya sepatu. Padahal kalian tahu, kalau keuntungan ibu berdagang baju bekas seminggu ini hanya cukup untuk menutupi kebutuhan dapur kita…”


“Kasihan Ruby, keinginannya untuk memiliki sepatu baru rupanya begitu kuat di hatinya, sampai-sampai ia berkhayal seperti itu….”

“Ruby tidak berkhayal, Mi,” kataku menyela pembicaraan, “Harist memang menjanjikan akan membelikanya sepatu baru hari ini…”

“Harist, kamu mau beli sepatu uang darimana?” Mbak Atin mendelik ke arahku, “jangan buat adikmu terlalu berharap, kasihan Ruby…”

“Iya Nak, kenapa kamu lakukan itu, kasihan Ruby ia jadi terlalu berkhayal sampai-sampai ia tak mau dirawat.”


Aku masuk ke dalam kamar dan mengambil bungkusan kotak dari bawah ranjang dipan papan kami. Bungkusan kotak itu sudah berlapis koran dengan rapi, aku memang sengaja menyiapkan semuanya hari ini. Kemudian ku sodorkan bungkusan kotak itu ke arah Ruby yang sedari tadi terduduk lesu…

Melihat bungkusan yang kusodorkan, Ruby seolah mendapatkan energy tambahan. Ia langsung tersenyum dengan mata yang berkilat menunjukan ekspresi kegembiraan. Tanganyapun langsung meraih kotak yang berbungkus koran itu, dan mendekapnya penuh kebahagiaan. Sementara ibu dan kedua kakaku hanya bisa diam dan memandang ke arahku penuh tanya.


“Harist memang telah merencanakan ini, Mi, “kataku kemudian, “hari ini Ruby genap sembilan tahun. Harist hanya ingin memberikan sesuatu pada Ruby agar Ruby makin semangat ke sekolah dan tidak terus menerus minder karena diejek teman-temannya...”

“Tapi…” ucapan Mbak Atin menggantung penuh pertanyaan.

“Itu sepatu untuk hadiah ulang tahunya, Harist membelikanya dari hasil tabungan upah bikin asem jawa di Tachi Meylin…”

“Ini hadiah buat Ruby khan Mas?”

“Iya Dek, ini hadiah sepatu untukmu,” kataku singkat, “yang rajin belajar dan cepat sembuh yaa…”


Ruby langsung membuka bungkusan kotak yang sedari tadi dipeluknya. Tak berapa lama, sepasang sepatu karet dengan merek Dragonfly terlihat. Warnanya putih bersih dengan list merah di bagian bawahnya. Ruby terlihat sumringah dan memeluk erat kembali sepatu itu…

“Terima kasih yaa…”

Mbak Atin dan Mbak Puji tersenyum, ibuku juga tersenyum. Semuanya turut merasakan bahagia di sore yang tenang itu.


“Terima kasih Rist, Mimi bangga punya anak yang saling peduli dan menjaga. Karena semua itulah, kita masih terus bisa bertahan mengahdapi keterbatasan hidup ini. Terima kasih…” ibu memeluk tubuh kecilku erat. Banyak rasa syukur dan sayang yang ia alirkan ke tubuhku. Meski sebetulnya apa yang kulakukan sangat tak sebanding dengan apa yang telah ia korbankan untuk kami, namun rasa terima kasih itu seakan melebihi semuanya itu. Ah, ibu… engkau selalu membuatku menjadi selalu merasa kurang dihadapanmu. Meskipun kutahu, memang takan pernah sebanding apappun yang kulakukan untukmu, dibandingkan dengan pengorbanan dan ketulusanmu untuk kami. Aku juga berterima kasih padamu Bu, engkau tak pernah lelah menunjukan kasih sayangmu padaku…”

*******

Adzan maghrib baru saja terdengar ketika aku mulai meluruskan punggungku yang seharian duduk terpekur dengan peralatan nge-pak asem jawa ini. Penat dan kejang menyelimuti seluruh persendian tulangku. Namun meskipun begitu aku tetap bersyukur, setidaknya apa yang menjadi tujuanku tercapai sudah. Aku berhasil memberikan sepatu baru untuk Ruby, aku juga berhasil mengembalikan semangatnya untuk rajin sekolah. Dan yang terpenting aku dapat terus menjaga amanah ibu, untuk bisa saling peduli dan berbagi. Meski sebenarnya, aku masih harus berhutang sepuluh hari kerja dengan hitungan lima lusin pak asem jawa….


“Sudah maglib laahh, lewih waik besok diteluskan lagi List. Yangan bulu-bulu ingin melunasi pinjaman, Tachi juga ikhlas memwantu. Yang penting, kelja di sini yang lajin, yah…”[10]

Aku tersenyum ke arah perempuan bermata sipit ini, beruntung aku bisa mengenalnya. Terima kasih yaa Allah, Engkau berikan kemudahan dalam hidupku…

*******



[1] Potongan rambut tokoh kartun Tintin dengan ukuran panjang satu centi meter dan sedikit menjambul di

bagian depannya

[2] Ayat Kursi – QS; Al Baqoroh ; 255

[3] Melebar ke samping dan hampir tegak lurus dengan sisi kepala bagian samping

[4] Lama sekali, Nak!

[5] Sudah, Bu…

[6] Harist, kalau sudah selesai cepat diberesin ya…

[7] Sebentar lagi maghrib, nanti orang rumah nyari-nyari…

[8] Berapa hari ini,

[9] Aah, boleh boleh lah, itu bagus…

[10] Sudah maghrib, laah, lebih baik besok diterusin lagi Rist. Jangan buru-buru ingin melunasi pinjaman, Tachi juga ikhlas membantu. Yang penting, kerja di sini yang rajin yaah…

Selasa, 18 Oktober 2011

14. Rinai Merona di Atas Gerbong Senja


<!--[if gte mso 9]> Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4

Rinai Merona

di Atas Gerbong Senja


Tidak banyak sebetulnya yang kuharap dari event Muludan yang biasa menghadirkan suasana berbeda di Kota Wali ini. Selain makan empal gentong di pasar malamnya, aku juga berharap bisa ikut ngalap berkah dengan ikut malam pelal [1] atau malam panjang jimat. Malam dimana kerabat Keraton Kasepuhan dan Kanoman mencuci berbagai benda pusaka peninggalan kejayaan Kesultanan Cherbon. Konon ritual seperti itu selain mengemban amanah dan tradisi masa lalu, malam panjang jimat memberi arti tersendiri bagi kami warga Cirebon. Yakni malam dimana kita bisa mendapatkan berkah dari karuhun dan kasepuhan Cirebon.


Namun hal itu sangat berbeda dengan Ruby di usianya yang mulai banyak melihat sekitarnya. Musim muludan untuk anak seusia Ruby memang identik dengan belanja mainan yang memang sangat banyak di pasar malam yang digelar selama sebulan. Pasar tradisional yang diselenggarakan di halaman Keraton Kasepuhan ini memang sangat sarat dengan beragam barang mainan dan jajanan pasar. Tidak hanya itu, pasar malam ini juga biasanya menjual beraneka ragam keperluan rumah tangga dan pakaian dengan harga yang sangat murah, sehingga kehadirannya banyak dinanti oleh masyarakat Cirebon.


Selain para pedagang mainan dan pakaian, di pasar malam muludan juga kerap menghadirkan aneka hiburan rakyat yang tak pernah absen. Ada kemidi putar, ombak banyu[2], rumah hantu, satwa langka, kuda lumping, hingga kereta-keretaan. Dan semuanya itu melengkapi syurga pesiar bagi kami semua, tak terkecuali kami. Dengan keterbatasan kami, kehadiran pasar malam muludan membuat kami selalu berangan-angan menjadi orang kaya, agar bisa menikmati semuanya itu. Kalau sudah begitu, nilai ritual mengagungkan Baginda Nabi Muhammad SAW, telah bergeser menjadi ajang berpesiar dan berbelanja secara konsumtif. Setidaknya karena hal ini juga telah menjadi lahan penghasilan bagi PAD Cirebon hingga kini. Dengan adanya pasar malam yang ramai selama seminggu itu, pihak Pemda atau pihak Keraton mengambil keuntungan. Dari retribusi pedang, retribusi parkir, sewa lapak dagang, hingga jasa angkutan dari dalam dan luar kota Cirebon.


“Jadi sudah ke muludan Ros?” tanya Yatno yang terlihat ngiri dengan cerita Rossi. “Memang kamu naik apa saja?”

“Banyak lah, aku nyobain kemidi putar, kereta-keretaan dan masuk rumah hantu yang banyak hatunya, hiii…,” Rossi terlihat berekspresi dengan pengalamannya mengunjungi muludan.

“Jadi pengen kesana, ya?” Ade mulai mengomentari.

“Iya, kalau nanti daganganku laku semua, aku juga akan minta izin Makne ah,” Yatno mulai terbawa suasana, “aku ingin naik kemidi putar dan makan empal gentong…”

“Kalau aku ingin lihat rumah hantu, Yat. Aku penasaran, seperti apa sih hantu-hantu yang kurang kerjaan itu,” Ade terlihat bersemangat.

“Kalau kamu ingin naik apa Rist?”

“Kalau aku sih, cuma ingin makan empal gentongnya saja, atau kalau tidak yaa docang[3], he he…,” kataku meningat apa yang pernah aku lakukan pada muludan tahun kemarin.


“Kalau Ruby?” Ade paling senang memancing pendapat adiku yang mirip anak cina itu, “mau apa kalau ke muludan?”

“Ruby mau motor-motoran dari berondong…,” katanya enteng.

“Motor-motoran dari berondong, buat apa?”

“Yaa buat main, khan bagus bisa Ruby bawa ke sekolah,” kata Ruby lagi.

Aku menatap wajah lelaki kecil itu, “mengapa dibawa, ke sekolah, Rub?”


“Soalnya temen-temen bawa mainan dari berondong Mas, ada motor-motoran, tembak-tembakan dan kuda-kudaan. Makanya kalau nanti dagangannya laku, Mas Harist belikan Ruby mainan dari berondong ya?”

“Iya, insya Allah, mudah-mudahan kita dapat untung besar hari ini, jadi bisa pergi ke muludan,” kataku penuh semangat.


Sesaat obrolan kami terhenti ketika deru peluit dari PPKA terdengar. Ini pertanda sebentar lagi akan ada kereta yang masuk stasiun. Kami berenam langsung berdiri dan bersiap menyambut kedatangan ladang rezeki kami. Sejak dimulainya event muludan di kota kecil ini, kami memang sedikit lebih semangat untuk mengumpulkan uang. Tak lain dikarenakan ingin hadir di ajang pesta rakyat yang berlatar mengagungkan kelahiran Nabi besar Muhammad SAW. Kami semua berharap turut merasakan riuh redahnya pasar malam yang menawarkan syurga mainan bagi anak-anak seusia kami.


Asap kereta asal Surabaya tujuan Jakarta baru saja berhenti, beberapa penumpang juga banyak yang bergegas turun atau sekedar istirahat di stasiun transit ini. Saat inilah waktu bagi kami untuk masuk gerbong dan menawarkan segala aset dagangan kami. Ade yang sibuk dengan buku-buku dan majalahnya, Yatno yang kerepotan dengan gorengan dan lontong burasnya, Kardi dengan kotak semirnya, aku dan Ruby yang susah payah menjinjing termos es dan aneka minuman plastik. Sedangkan Rossi seperti biasa, meliuk-liukan suaranya untuk mengalunkan tembang-tembang andalannya. Hari itu, semangat juang kami memang lebih dari biasanya.

*****


“Mimi ngga melihat adikmu, Ji?” suara serak itu terdengar parau. Ibu memang menderita batuk-batuk sejak tiga hari yang lalu. Katanya masuk angin karena terlalu sering pulang malam menjajakan pakaian bekas.

“Ngga tahu, Mi. Katanya sih lagi ke rumah si Ade,” Mbak Puji menjawab dengan santai. Sementara bahan rajutanya terlihat menjuntai ke lantai. Belakangan ia memang rajin melatih ketrampilannnya membuat aneka rajutan, semangatnya untuk melanjutkan kursus menjahit terlihat begitu besar.


“Ke rumah si Ade ponakannya Mang Sangka itu?”

“Iya, Mi.”

“Mau apa maghrib-maghrib begini? Terus si Ruby kemana, Mimi ngga lihat dari tadi?” ibu masih mengabsen anak-anaknya.

“Pastinya main lah Mi, ini khan hari Sabtu besok libur, jadi ngga pada belajar,” kata Mba Puji masih dengan kegiatan merajut benang-benang wolnya.


“Yaa tapi mereka ngga bilang dulu sama Mimi, ini ngga biasa. Memangnya mereka ini mau kemana sih?” ibu terlihat cemas dengan kalimatnya. Setidaknya maghrib itu, aku sengaja memang tidak pamit pada ibuku untuk pergi ke pasar malam muludan. Aku ingin ikut rombongan ‘anak-anak kereta’ yang malam ini akan main ke pasar malam, dan Ruby selalu ingin ikut. Oleh karena itu aku tak pamit pada ibu, masalahnya ia pasti tak mengizinkan aku pergi dengan Ruby malam-malam.


Selepas sholat maghrib di mushola Al Baroqah, kami memang tak langsung pulang akan tetapi pergi ke rumah Ade yang berada di Empang I. Semua anak kereta yang ingin pergi ke pasar malam memang harus berkumpul di sana pada ba’da maghrib, ini skenario kami untuk berangkat sama-sama ke sana. Melewati beberapa kampung dengan kondisi jalan yang masih gelap membuatku agak sedikit merinding. Apalagi untuk mencapai Empang I, aku harus melewati Empang III dan Empang II yang notabene masih banyak cerita angker. Seperti siluman ular berkepala perempuan, wewe gombel yang sering menculik anak-anak serta hantu gulang-gulang yang mencari tumbal. Semua cerita misteri di atas memang sangat ampuh dalam menakut-nakuti anak-anak seusian kami. Namun karena terdorong keinginan untuk bisa ikut pergi ke pasar malam muludan, semuanya tak berlaku lagi bagi kami.


Lima belas menit berlalu, kami baru saja melewati Empang III yang konon salah satu warganya punya pesugihan di situ. Oleh karena itu, kampung ini sering dipandang tidak aman bagi anak-anak kecil untuk jalan sendiri menjelang gelap. Pernah kudengar kalau tiga orang anak hilang selama tiga hari dan diketemukan sudah tak bernyawa dengan tubuh kaku. Banyak yang bilang kalau mereka dijadikan tumbal pesugihan, hanya saja tidak ada bukti yang menjerat warga yang selama ini dicurigai memelihara pesugihan. Orang-orang di kampungku biasa menyebutnya Ngipri atau muja ular. Jadi dengan proses ritual tertentu, mereka yang mencari kekayaan dengan jalan ini akan bersekutu dengan siluman ular. Biasanya pada malam Jum’at Kliwon, mereka yang sudah melakukan perjanjian ini akan tidur bersama sang siluman sepanjang malam. Sementara sisik-sisik ular yang jatuh pada proses tidur bersama itulah yang ketika pagi akan berubah menjadi uang, atau perhiasan intan berlian. Hanya saja tebusan untuk semuanya itu adalah tumbal anak kecil setiap tahun atau beberapa bulan sekali.


Beruntung aku dan Ruby telah melewati kampung itu, kini tengah menyusuri jalan kecil di Empang II yang sejak aku lahir masih jauh tersentuh listrik. Rumah-rumah di sini juga masih banyak yang hanya menggunakan petromak atau cempor untuk penerangan rumah mereka. Keringat masih mengucur diantara kami, ketika melewati Empang III kami memang agak sedikit bergegas meski tak lari. Ruby beberapa kali mengelap keringat yang meleleh di keningnya, ia terlihat lebih capek dariku. Meskipun sehat, Ruby dulu pernah sakit panas, sehingga sekali waktu ia terlihat agak lemah.


“Masih jauh Mas, rumah A Ade?”

“Sebentar lagi, Dik. Setelah kita lewati pos ronda yang di depan itu kita sudah sampai di perbatasan Empang I. Mudah-mudahan kita tidak ketinggalan anak-anak yang lain,” kataku terus menyemangati.

“Nanti Ruby jadi beli motor-motoran sama naik ombak banyu khan?”

“Ya, makanya cepat nanti kita ketinggalan rombongan,” kataku seraya mempercepat langkah untuk segera sampai ke rumah Ade.


Tak lama kemudian, kami berhasil melewati Empang II dan sampai di Empang I tempat Ade tinggal. Beberapa anak-anak kereta sudah berkumpul dengan canda tawa mereka. Rossi, Yatno, Kardi, Ahmad juga terlihat hadir di sana. Mereka sudah siap untuk segera pergi ke alun-alun Kraton Kasepuhan tempat pasar malam muludan di gelar.

“Bagaimana, Rist jadi berangkat? Lama sekali sih…,” Ade langsung menyambut kami.

“Ya iya lah, jauh-jauh aku ke sini khan karena ingin ikut tau,” kataku agak kesal menahan nafas yang tersengal. “Kapan kita berangkat?”


“Kalau semuanya sudah siap, ayo kita berangkat sekarang,” kata Rossi mengomando. Ia memang selalu bersikap seperti itu, padahal Ade tiga tahun lebih tua dari kami.

Setelah mempersiapkan aturan berangkat dan aturan ketika berada di sana, kami bertujuh malam itu mulai bergerak ke lokasi pasar malam muludan. Dimulai dari naik angkutan kota A1, angkot ini jurusan By Pass – Perumnas – Cangkol – Samadikun dan Gunung Sari. Kami akan berhenti di Cangkol karena dari sana letak alun-alun Keraton Kasepuhan sangat dekat, bisa ditempuh dengan jalan kaki. Para pengunjung yang menggunakan kendaraan pribadi juga harus berhenti di sana dikarenakan batas parkirnya memang dekat-dekat situ.


“Ingat ya, jalan-jalannya tidak lebih dari jam sembilan! Pukul sembilan tepat kita harus sudah berkumpul kembali di sini, mengerti,” Rossi masih mengambil alih komando, sementara yang lain hanya menggangguk menanggapi. Entah karena mengerti atau karena sudah tak sabar ingin segera bergabung dengan kemeriahan pasar malam.


Setelah itu kami berpencar, menuju apa yang menjadi incaran masing-masing. Meski kami kompak dalam beberapa hal, namun selera kami memang beda-beda. Ade lebih menyukai hal-hal yang berbau pendidikan, karenanya ia lebih senang berada di stand yang menjual perlengkapan sekolah dan buku-buku ilmu pengetahuan. Yatno lebih menyukai hal-hal yang berbau barang-barang mewah, karenanya ia senang berada di stand elektronik atau jejeran sepeda gunung seperti impiannya. Rossi sesuai dengan jiwa pemberontaknya lebih suka berada di stand yang menjual perlengkapan ekspedisi, seperti tas gunung, tenda, lampu badai atau perlengkapan berburu. Kardi dengan kondisinya lebih senang berada di stand yang menjual aneka barang mainan, baik yang terbuat dari plastik, kayu ataupun makanan. Ahmad yang alim lebih senang berada di stand yang menjual barang-barang spiritual, seperti aneka minyak wangi non alkohol, tasbih, sajadah, kitab-kitab kuning, dan yang tak ketinggalan adalah kopyah. Yang satu ini adalah barang favoritnya, ia tak pernah lepas dengan yang satu ini dikesehariannya.


Sementara aku yang mendampingi Ruby tak banyak pilihan. Selain mencari motor-motoran dari berondong, ia tak mau beranjak dari aneka permainan. Ini yang membuatku jadi terpisah jauh dengan rekan-rekanku. Ada keinginanku untuk menitipkan Ruby ke Kardi, setidaknya keinginan mereka sama. Namun segera kutepiskan keinginan ini, aku tak bisa menitipkan Ruby. Aku harus tetap menjaga amanah ibu, aku tak mau terjadi sesuatu dengannya.


“Yang lain pada kemana, Mas?” tanya Ruby yang terlihat berbinar-binar dengan motor-motoran berondong dalam pelukannya.

“Yaa pasti keliling pasar, Ruby sudah khan keliling-kelilingnya. Sekarang ke tempat sandal yuk,” aku berharap bisa mengganti sandal jepitku yang sudah usang ini dengan sendal lily atau daimato. Sudah lama sekali aku ingin mengganti sendalku, kata orang-orang harga sendal di pasar malam muludan bisa setengah harga.

“Tapi Ruby mau naik ombak banyu dulu, Mas.”

“Iya, tapi kita beli sendal Mas Harist dulu ya…,” bujuku.

“Ngga ah, naik ombak banyu dulu,” rengek Ruby makin memaksa.


Aku tak bisa menolak keinginan adiku, terpaksa kubelikan karcis untuknya naik ombak banyu. Harga-harga barang memang murah, tapi untuk karcis permainan terbilang cukup mahal. Mungkin karena masih menggunakan tenaga manusia sehingga harga karcisnya mencapai Rp. 100,- per lembarnya. Beruntung aku masih memiliki selembar uang ratusan, itu cukup untuk membeli selembar karcis ombak banyu.


Setelah sabuk dipasangkan di bangku tempat adiku duduk, ombak banyu yang 80 %-nya masih menggunakan tenaga manusia itupun mulai bergerak. Ruby terlihat begitu girang dengan ayunan dan rotasi kemidi yang makin kencang seperti ombak laut naik turun. Tangannya melambai setiap putarannya mengarah ke tempatku berdiri. Aku balas senyum dan melambai, meski fikiranku tertuju pada harga sendal lily atau daimato. Mungkinkah bisa kubeli dengan dua lembar uang lima ratusanku? Entah karena aku separuh berkonsentrasi pada putaran adiku, atau memang aku terlalu serius melamun, yang jelas tiba-tiba seorang pemuda menabraku dari belakang.


“Aduhh!!” teriaku.

“Maaf, maaf Dek, saya buru-buru,” katanya seraya segera berlalu.

“Iya, ngga apa-apa,” kataku menahan sakit.

Setelah enam menit, ombak banyupun mulai melambat. Dan ketika mesinnya benar-benar berhenti, semua penumpang diturunkan. Satu per satu anak-anak yang ada di bangku berputar itu diturunkan petugas ombak banyu, termasuk Ruby.


“Sudah selesai khan, ayo kita ke tempat sendal…” kataku seraya menuntun tangan Ruby, namun ia tetap diam dan tak mau bergerak. “Kenapa, khan sudah naik ombak banyu, ayo kita jalan lagi…”

“Ruby masih mau naik lagi, Mas…”

“Khan sudah, Ruby. Masak harus naik lagi, nanti kepalamu pusing loh,” kataku mencoba membujuk lagi.


“Ruby mau naik lagi Mas, sekaliii lagi aja,” Ruby masih terus merengek.

“Iya, tapi ke tempat sendal dulu ya, nanti kita ke sini lagi,” kataku terus membujuk. Namun Ruby masih tetap tak mau bergeming, tangannya malah memegang erat teralis pagar pembatas ombak banyu. Akupun menyerah, aku tak mau melihat Ruby ngambek, bisa repot kalau ia sampai nangis di pasar malam. Dengan terpaksa akupun kembali mendatangi loket karcis ombak banyu, namun saat aku hendak membayar karcis itu aku tak mendapati dua lembar uang lima ratusan yang sejak tadi kukantongi.


“Kenapa Dek, ada uangnya khan?” tanya penjaga karcis.

“Ta.. tadi ada, Pak. Tapii…,” kataku tergagap seraya terus mencari uang lembaran di saku celanaku.

“Kalau ngga ada, tolong geser yang lain mengantri.”

Dengan lemas akupun begeser dan mempersilahkan yang lain untuk mengantri dan membeli karcis. Dengan ragu aku kembali ke tempat Ruby .

“Mana karcisnya Mas, Ruby ingin naik, sebentar lagi mau diputar,” Ruby langsung memburuku.


“Iya, tapi uang Mas Haristnya hilang, Dik. Kita ngga bisa beli karcisnya.”

“Tapi Ruby mau naik lagi, Ruby mau naik kemidi putar sekali lagi…”

“Sudah dong, Dik. Mas Harist sudah ngga punya uang lagi, kita pulang saja, ayoo…,” Ruby tetap ngambek. Ia tak mau bergerak, ia tetap memegang erat teralis pagar pembatas. Matanya mulai sendu, seperti biasa Ruby mulai jurus ampuhnya sebagai bungsu, menangis. Melihat itu, aku segera menghubungi petugas ombak banyu untuk meminta sedikit dispensasi, kebetulan satu kursi terlihat kosong.


“Maaf, Nak. Bapak cari uang untuk makan keluarga Bapak, kalau yang naik pada gratis, bagaimana Bapak bisa makan?”

“Tapi Pak, sekali saja…” kataku memohon, “tadi saya punya uang, tapi hilang ketika hendak beli karcis. Tolong Pak, sekali saja, buat adik saya…”

“Heh, bocah, mesin itu harus diputar pake solar, dan solarnya tidak geratis tau!!” teman lelaki penjaga ombak banyu terlihat emosi. Mungkin dianggap hanya mengganggu pekerjaanya.


“Tolong Pak, sekali saja buat adik saya,” aku masih terus memohon dan berharap lelaki penjaga ombak banyu ini bisa meluluskan permohonanku, “sa… saya mau melakukan apa saja untuk membantu Bapak, asal adik saya bisa ikut naik sekali saja Pak…”

“Baik, kalau itu mau kamu,” lelaki yang bertampang kurang ramah tadi terlihat makin kesal, “kamu bisa bantu saya memutar tuas poros ombak banyu itu, sebelum mesinya berjalan. Dengan perhitungan, adik kamu naik sekali tapi kamu harus mendorong sebanyak lima kali puteran, sanggup tidak?”


Aku terdiam, aku menyesal dengan perkataanku sendiri. Sesaat kutatap wajah Ruby yang begitu memelas ingin naik ombak banyu, akupun akhirnya tak berfikir panjang lagi. “Saya mau Pak, asal adik saya bisa naik…”

“Oke, sana naikan adikmu ke kursi yang masih kosong itu!”


Akupun segera beranjak dan menggandeng Ruby untuk naik kursi ombak banyu yang masih kosong. Ruby terlihat begitu senang, aku jadi makin bersemangat dengan tekadku membantu lelaki penjaga kemidi putar. Meski dua orang penjaga ini nampak berbisik-bisik di sampingku, aku tak peduli! Yang penting Ruby bisa naik ombak banyu.


“Kasihan anak itu, ia mau berkorban hanya untuk sekali naik ombak banyu” seru penjaga yang lebih tua.

“Padahal khan saya cuma main-main, Kang. Rupanya ia serius ingin menyenangkan adiknya, aku jadi ngga tega…”

“Kamu siih, keterlaluan bercandanya…”


Begitulah, demi untuk Ruby aku merelakan acara suka ria di pasar malam muludan ini dengan menjadi tukang putar tuas poros ombak banyu. Meski tubuh kecil ini terlihat letih dan kelelahan dengan pekerjaan yang tak seharusnya, aku terus berusaha untuk memenuhi janjiku pada lelaki penjaga ombak banyu. Melihat kesungguhan dan keseriusanku, akhirnya mereka menghentikan aku bekerja hanya pada putaran yang ke tiga. Dua putaran berikutnya, aku malah di suruh istirahat dan diberi es teh manis.

“Capek ya…”


Aku tak mampu menjawab, nafasku masih tersengal-sengal. Badanku rasanya hacur berkeping menahan pegal dan lelah. Perlahan kuminum es teh manis yang di sodorkan lelaki itu, dan langsung habis tak tersisa.

“Terima kasih,” kataku.

“Sama-sama, Nak. Maaf kalau kami membuatmu jadi kelelahan seperti itu, kalau saja kamu…”


“Ngga apa-apa, Pak. Yang penting adik saya senang,” kataku mencoba untuk tersenyum, seraya melirik ke arah Ruby yang terlihat mulai mengantuk. Ia juga terlihat kecapaian menungguiku selesai bertugas.

“Besok, kalau mau naik ombak banyu lagi, temui saya saja yaa,” lelaki bertubuh gempal itu tersenyum menawarkan persahabatan.

“Iya, Pak. Terima kasih, saya mau pamit sekarang.”

“Ya, ya.. hati-hati ya!”


Akupun berlalu dari lokasi ombak banyu, dengan tubuh lelah yang amat sangat. Namun meski begitu aku merasa bahagia, aku bisa membuat Ruby senang. Dan yang terpenting aku masih bisa menjaga amanah ibu, untuk dapat menjaga dan melindungi adiku. Terima kasih Yaa Allah, Engkau beri kekuatan pada tubuhku dan menunaikan tugasku…

*****


Siang ini kami berkumpul di gerbong tua yang sering kami jadikan tempat istirahat. Obrolan mengalir pada pengalaman indah menikmati kemeriahan pasar malam muludan. Ini tak biasa bagi kami, karena ini adalah pertama kali bagi kami menikmati pasar malam muludan secara bebas. Kami biasa hanya ikut orang tua atau kerabat, yang pastinya serba di atur dan tak puas melihat-lihat. Namun tahun ini kami bisa berekspresi dengan apa saja yang memanjakan mata anak-anak kami. Meski sejujurnya aku sendiri tak begitu mendapatkan apa yang diharapkan, namun dengan tetap bisa menjaga dan menyenangkan Ruby bagiku sudah cukup.


“Aku dapat buku pintar yang berisi segala macam ilmu pengetahuan, Ros. Kalau ngga salah di toko buku harganya mahal sekali, tapi kemarin aku cukup bayar tiga ribu rupiah saja,” Ade terlihat bangga dengan barang hasil buruannya.

“Kalau aku dapat tas ransel untuk naik gunung, meski ngga baru tapi masih bagus. Lumayan bisa dipake kalau aku mau ngamen jarak jauh,” Rossi ngga mau kalah.

“Ka… kka… lau aakku, dapat pppistol llallampu wwawarna warni,” Kardi ikut menyambung, “nnii… lihat!” Pistol plastik dengan batu batere yang memiliki lampu warna-warni nampak terselip di pinggangnya, Kardi menunjukan itu dengan bangganya.


“Waah, aku juga ngga mau kalah nih,” kata Yatno menimpali seraya menunjukan sweater bunga-bunga. Tidak terlihat baru sih, tapi masih layak untuk dipakai, hanya saja kerahnya terlihat miring-miring di leher Yatno. “Aku dapat baju ini dengan harga Rp. 750,- doang. Aku beli tiga, satu untukku dan dua buat Makne, diakan sering begadang untuk bikin buras, jadi biar ngga kedinginan.”

“Kalau kamu dapat apa, Rist?” Ade melempar tanya padaku yang sedari tadi hanya asyik mendengarkan beragam kegembiraan teman-temanku.

“Aku?” tanyaku agak bingung.


“Iya, kemarin kamu bilang mau cari sendal baru khan? Bagaimana dapat ngga?” Ade masih terus bertanya padaku.

“Sebenarnya aku mau membelinya, De. Tapi uangku mendadak ada yang mencopet, jadi batal untuk membeli sendal Lily atau Daimato,” kataku agak memelas.

“Yah, dan kulihat kamu juga harus membantu tukang ombak banyu semalam, kenapa?” Rossi mulai menyambung ceritaku.

“Ruby mau naik ombak banyu dua kali, sedangkan uangku tak tersisa sama sekali, ludes diambil pencopet. Jadilah aku membuat kesepakatan untuk membantu mereka asal Ruby bisa naik kemidi putar sekali lagi.”


Keempat temanku menatap lurus ke arahku, entah apa yang ada dalam pemikiran mereka. Yang jelas ada sorot tulus dari pandangan mereka terhadapku.

“Kamu kakak yang baik, Rist. Kalau aku punya adik seperti Ruby, mungkin juga akan melakukan hal sama…” Ade menepuk pundaku, entah apa yang ia tangkap dari perkataanku yang sebenarnya asal keluar itu. Detik berikutnya tiga orang temanku yang lain malah ikut merangkul pundaku, mungkin wujud solidaritas mereka akan rekan senasib dan sepenanggungan.


“Masih banyak waktu untuk kita bisa ke muludan lagi Rist,” tiba-tiba Rossi bersuara memecah keheningan sesaat, “jadi ngga perlu kecil hati, kita akan puaskan kembali keinginan kita menjelajah setiap sudut kemeriahan pasar malam muludan, ok?”

“Siip, aku juga masih ingin lihat atraksi motor dengan roda gilanya!” Yatno ikut berteriak menyuarakan semangatnya.

“Aku juga belum puas mengelilingi stand buku dan perlengkapan sekolah, kelihatannya aku masih mau beli beberapa buku dan alat tulis,” giliran Ade ikut berandai-andai.


“Kkkaalau akk.. aku inginnn beli pistol lllallagi, yang bi bi bissaa nembakkin aa..air,” Kardi malah terlihat lebih semangat dari yang lain, matanya berputar-putar menahan gejolak di hatinya. Pasar malam muludan memang mengandung aura histeria bagi anak-anak seperti kami.

“Aku masih berburu gitar yang bagus untuk mengembangkan hobi dan bakat musiku, jadi pastinya aku juga takan menyia-nyiakan kesempatan untuk menikmati pasar malam muludan,” Rossi menunjukan keseriusannya. Ambisinya untuk menjadi pemusik tenar, membuatnya sangat terobsesi memiliki gitar dengan merek ternama.


Aku tersenyum, rasanya hatiku juga terpancing untuk menyuarakan keinginan yang tertunda dari kemeriahan pasar malam muludan. Semoga saja masih ada kesempatan dan rezeki untuku bisa memiliki sendal baru, menggantikan sendal jepitku yang sudah uzur. “Aku ingin punya sendal baru…”

“Yeahh!!! Ayo kita kumpulkan uang lagi, kita serbu pasar malam lagi!!” Rossi berteriak seraya mengacungkan gitar kecilnya ke udara. Disambut semua rekan-rekanku, semangat kami pun segera bergelora untuk menjemput rezeki kami hari ini. Demi obsesi dan keinginan kecil kami, menikmati kemeriahan pasar malam muludan yang hanya ada satu tahun sekali.


Langkah kamipun kemudian bergegas menyerbu gerbong kereta yang mulai langsir dan transit di stasiun kota Udang ini. Penuh semangat kami tunjukan segala aset dan kemampuan berniaga kami untuk menarik para pembeli, demi keuntungan yang akan kami belanjakan pada pasar malam. Kalau sudah seperti itu, waktu rasanya tak begitu berpengaruh pada segala gelora menjemput mimpi kami. Segala peluh dan lelah juga tak lagi mampu menghalangi kami untuk tetap konsentrasi mendapatkan apa yang kami inginkan dalam lintasan hari ini. Hingga jingga mulai berarak di atap gerbong-gerbong kereta yang menguji kesungguhan dan kegigihan kami meraih mimpi.


Namun meski langkah-langkah kecil kami masih terus bergerak melintasi semangat hati kami, waktu tetaplah waktu. Ia tak dapat di cegah untuk diam atau mundur ke belakang. Seperti juga kondisi fisik kami, yang tak lagi mampu dipaksakan. Ketika bulir peluh dan kelelahan menjadi bagian sentral batas kemampuan kami. Dan sentuhan terakhir dari kesemuanya itu adalah taqdir Allah atas segala wujud dan bentuk ikhtiar hamba-Nya. Keputusan-Nya adalah penentu dari semua kemungkinan di jalanan hidup manusia. Seperti yang terjadi pada rekan kami, Rossi.


Ketika semangat dan jiwanya terus bergejolak untuk mencoba meraih apa yang menjadi mimpi dan obsesinya, Allah menentukan bukti sayang-Nya. Dengan meraih dan mengambil Rossi dari segala ketakmenetuan langkah hidup yang ia jalani. Tepat ketika senja meronakan jingga, langkah kaki kecil Rossi telah menuntunya untuk menggapai mimpinya yang paling hakiki. Menjadi bagian hamba yang disayang dan dicintai-Nya. Ia telah menjemput syahid atas ikhtiar terbaiknya menyikapi kerasnya hidup ini.


Rossi tergelincir ketika hendak pindah dari satu gerbong ke gerbong yang lainya, ia jatuh terpeleset dan masuk diantara derap roda-roda besi yang telah mengawal masa kanak-kanak kami. Rossi telah menjemput mimpi damai dan abadinya. Rossi meninggal dengan tubuh yang hacur tergilas gerbong tempatnya menggantungkan semua impian dan harapan. Dan rinai kecil yang turun senja itu seakan melengkapi episode paling pilu dalam sejarah perkawanan kami. Tetes darahnya menggenangkan warna merah kental ke seluruh penjuru rel tempat bermain kami…


Kami tak lagi mampu berkata-kata, tak lagi mampu berbuat apa-apa. Hanya diam dengan hati pilu serta air mata yang bercampur rintik hujan senja ini. Kami terus begitu, ketika gerbong-gerbong harapan itu terhenti dan menyeruakan histeris para penumpang yang ada di dalamnya. Beberapa petugas dan orang tua berlarian menghampiri jasad remuk sahabat kami. Ada isak tangis, jerit pilu juga sesal yang menelikung setiap tatapan wajah mereka. Ini taqdir yang sangat menyesakan dari kehidupan anak jalanan seperti kami. Entah siapa yang harus dipersalahkan ketika ini terjadi, yang jelas semuanya ini adalah sekenario nasib yang kebetulan harus kami jalani. Dan pastinya yang terbaik yang Allah designkan untuk kami.


Selamat jalan Rossi! Selamat jalan sahabatku, akan selalu kukenang semangat dan sikap hangatmu dalam hidupku. Banyak hal darimu yang membuatku tetap tegar dan semangat menghadapi segala kenyataan hidup ini. Terima kasih sahabat, semoga Allah telah menyiapkan perhelatan terbaik untuk menyambut jasad muliamu…

******


Rinai meronakan jingga, ketika langkah kaki kami meninggalkan pusara kecil saudara kami, Rossi. Meski pilu dan getir di hati kami, namun kami terus berjuang untuk tak meneteskan air mata. Terlalu cengeng bagi seorang Rossi yang selalu mengobarkan semangat kami. Ia tak pantas mendapatkan itu! Kami yakin ia hanya ingin kami tetap dan terus bersemangat meraih mimpi dan obsesi kami. Meski kini langkah kecilnya, semangat bergeloranya, canda dan sikap nekatnya, tak lagi membarengi kami. Namun kami tetap yakin, kalau ia tetap hadir dalam jiwa dan semangat kami. Kami juga yakin, kalau Rossi tetap melihat dan memperhatikan kami dari atas sana. Dan pastinya ia tak ingin kami surut langkah dalam meraih dan menggapai mimpi kami…

“Semoga api semangat yang selalu kau kobarkan tetap menyala di hati kami, Ros…,” suaraku lirih diantara sisa taburan bunga yang kami bawa sore itu.

******


[1] Sebutan untuk penghujung waktu perayan maulud Nabi di Kraton Kanoman dan Kesepuhan

[2] Permainan yang terdiri tempat duduk melingkar dari kayu , memuat lima belas sampai dua puluh orang dan berputar mengelilingi poros yang terbuat dari besi-besi gerigi besar. Pengoperasian ombak banyu masih manual, oleh karena itu, harus selalu ada yang memutar tuas porosnya untuk terus bisa berputar

[3] Makanan racikan yang terdiri atas lontong, aneka sayur, parutan kelapa, kerupuk dan sayur dage

Kuberikhram Untuk Ibuku

Setelah Lima Belas Tahun Itu

“Jadi berangkat ke Cirebon hari ini, Yah?” istriku membuyarkan semua lamunanku sore itu. Semua persiapan untuk pendaftaran ibadah haji telah lengkap, kini tinggal mendaftarkannya saja. Aku memutuskan untuk ikut rombongan jemaah haji dari Cirebon, karena kuota di Banten untuk pemberangkatan tahun ini telah penuh. Oleh karena itu aku berniat kembali pulang ke tanah kelahiranku hari ini. Sebetulnya aku ingin melaksanakan ibadah haji ini dengan orang yang paling setia mendampingiku selama ini; istriku. Tapi ia baru saja melahirkan tiga bulan lalu, disamping bekal pendaftaran ini juga hanya cukup untuk satu orang. Aku sempat mengurungkan niatku, kalau saja istriku tak meyakinkan kalau akan ada masanya aku akan berangkat kembali bersamanya. Setidaknya keberangkatanku kali ini memang demi sebuah janji, janji yang telah lama sekali untuk ibuku!
“Insya Allah, Ayah pulang secepatnya, mungkin sekitar tiga atau empat hari. Emang, ada apa Bunda ?” aku balik bertanya pada istriku yang masih sibuk mengepak beberapa pakaianku.
“Tidak ada apa-apa sih Yah, cuma itu dari kemarin si Dede batuk-batuk terus,” suara istriku agak terdengar sember, pasti ia kecapaian mengurus kedua anakku yang masih batita.
“Si Dede masuk angin lagi? Sudah diolesi minyak telon belum?”
“Sudah, malah ditaburi bawang tumbuk tadi…”
“Terus, masih batuk juga?” istriku mengangguk perlahan . Aku jadi bingung, anaku yang kedua ini memang agak manja walaupun ketika lahir beratnya mencapai 4,2 Kg, tapi dia tidak terlalu kuat dengan cuaca yang sering hujan begini.
“Bagaimana kalau kita bawa ke dr. Weni saja …”
”Kalau memang harus, yaa kesana sekarang saja!” kataku singkat.
”Tapi Yah...”
”Sudah ngga apa-apa, Bunda. Berangkat kesana saja dulu . Biar pulang dari sana saja ayah berangkat ke Cirebon...”
”Kalau begitu sebentar Bunda bangunkan Giffary dulu, biar ikut sekalian” Kamipun segera berangkat menuju rumah praktek dr. Weni pagi itu. Yang jelas aku ingin kepergianku tidak meninggalkan kecemasan pada anak keduaku itu.
“Yaa Allah… semoga tidak ada apa-apa dengan anaku Noor Rivandy,” aku terdiam, fikiranku mulai melayang kembali. “Ya Allah, permudah jalanku untuk dapat memenuhi janjiku. Permudah segala permasalahan yang ada di langkahku untuk sebuah niat tulus dari hatiku...” doa itu terus terucap di hatiku di sepanjang perjalananku menuju tempat kelahiranku, Cirebon.

%%%%

Dengan niat yang bulat kulangkahkan kakiku memasuki kantor pelayanan penyelenggaraan haji yang terletak di samping ruang utama, beragam pertanyaan telah kusiapkan sejak di rumah. Hari ini aku akan memantapkan hati pada janjiku yang tertunda, pada niat yang telah lama terpendam. Niat dan janji untuk seseorang yang telah begitu banyak berkorban untuku, untuk seseorang yang sangat berarti dalam kehidupanku. Setelah lima belas tahun ini, aku ingin semuanya tertumpah sudah. Aku ingin semuanya terpenuhi dengan sempurna!

“Assallamu ‘allaikum…”
“Wa allaikum sallam, ada yang bisa kami bantu, Pak?” seorang lelaki kurus paruh baya menyambutku dengan ramah. Sesaat aku menjabat tangannya dan duduk di sebuah kursi yang telah ia persiapkan. Ruangan 3 x 4 meter ini mendadak menyergapku, entah mengapa mulutku tiba-tiba kelu. Beberapa kaligrafi dan gambar-gambar tanah haram lengkap dengan ka’bah menyedot hampir seluruh focus pupil mataku. Hatiku berdesir merasakan kesejukan sesaat dari apa yang kulihat, hingga tak terasa senyumku tersimpul kecil.

“Ingin mendaftar, Pak?”
Aku mengangguk seraya tersenyum simpul, sementara lisanku masih kelu untuk berucap. Mungkin pandangan mataku menyiratkan semuanya itu, hingga tanpa sungkan bapak yang berada di depanku itu ikut tersenyum ke arahku. “Alhamdulillah, Allah telah memanggil dan mengundang Bapak untuk menjadi tamu-Nya. Semoga akan menjadi kebarokahan….”

Bapak Hamid, demikian papan nama dari seragam yang lelaki kurus ini. Ia nampak cekatan dan kulina dengan beragam formulir yang menjadi tugas hariannya ini. Tangannya yang terlihat tak muda lagi masih terlihat terampil untuk mencatat beberapa persyaratan awal bagi para pendaftar calhaj dengan tulisan latinnya. “Ini beberapa persyaratan yang harus pertama-tama dilengkapi, Pak. Silahkan Bapak mengisinya dengan huruf cetak.”

Kuraih formulir yang berwarna hijau itu. Sesaat akupun mulai mengisi formulir yang telah lama kudambakan ini. Lengkap! “Saya belum membawa foto dan rekening setoran dari Bank yang ditunjuk, Pak.”
“Bapak Harist,” demikian lelaki ini membaca formulir yang aku sodorkan, “nanti saja, Pak. Setelah Bapak menyetorkan dana awal BPIH pada bank yang ditunjuk.”
“Kira-kira kapan terakhir saya kembali, Pak?” tanyaku ragu.

“Kalau bisa secepatnya Pak, masalahnya semakin hari semakin banyak yang mendaftar. Kami takut akan berpengaruh pada kuota calhaj, dan Bapak bisa saja tidak termasuk jika terlambat menyelesaikan syaratnya.”
“Kalau begitu saya harus menyiapkan secepatnya, Pak?”

“Benar sekali Pak Harist. Semakin cepat Bapak menyelesaikan persyaratannya, semakin pasti kuota kursi calhaj untuk Bapak. Dari 17.000 orang kuato Provinsi Jabar tahun ini, untuk Cirebon tinggal 200 – an orang lagi. Jadi kalau Bapak berniat mengikuti pemberangkatan calhaj tahun ini, yaa kami harap dapat segera melengkapi persyaratannya, Pak.”

“Baik Pak, terima kasih. Besok saya akan kembali ke mari, mudah-mudahan saya bisa melengkapi apa yang menjadi persyaratannya.”
“Baik, kami tunggu Pak Harist.”
“Terima kasih,” setelah kujabat tangan dan mengucapkan salam, akupun berlalu dari kantor bercat hijau itu.

Sesaat pandanganku tertuju pada hamparan aspal yang nampak begitu panas di depanku, seingatku , jalan-jalan ini dulunya becek dan kecil. Bangunan-bangunan mewah dan gagah juga menghiasi setiap ruas jalan Pemuda yang tersusun apik ini. Beberapa diantaranya malah terlihat sangat mewah untuk kota kecil seperti Cirebon ini. Beberapa Mall berlantai empat dengan fasilitas lengkap juga menjadi penghias sudut kota kelahiranku. Tak ketinggalan taman kota dan jalur hijau yang tersusun rapi menjadi pelengkap penggambaran kemajuan kota ini. Rupanya banyak yang telah berubah setelah lima belas tahun berlalu. Aku benar-benar pangling dengan perubahan wajah kotaku ini.

Laju kendaraanku berbelok ke arah Jalan Tentara Pelajar, di jalan ini kutemui pula Grage Mall, salah satu mall yang menjadi pusat perdagangan modern. Disampingnya berdiri Gedung BRI dengan menara yang menjulang menyaingi tugu selamat datang PDAM dihadapanya. Jalan ini memiliki empat ujung, selain Jalan Dr. Wahidin yang menuju ke arah Kabupaten Indramayu, Jalan Kartini yang menuju pusat kota, ada juga Jalan Tuparev yang menuju ke arah Kabupaten Cirebon, tempat almarhumah ibuku di semayamkan. Aku memutuskan untuk mampir dan berziarah ke sana. Aku ingin mengenang peristiwa lima belas tahun yang lalu ketika aku menghantarkannya beristirahat. Suasana jalan ini juga banyak yang berubah. Beberapa show room mobil, mini market, hotel dan perguruan tinggi nampak berjajar di sepanjang jalan yang dulu terlihat sunyi ini. Mataku tak berhenti menatap setiap sudut jalan yang dulu juga merupakan arah keseharianku menuju SMA-ku.

Lima belas tahun yang lalu itu seakan kembali terbayang di mataku. Di jalan ini pula, mataku seolah melihat sesosok pemuda yang tertelikung pada keterbatasan dan ketakmampuan menghadapi tuntutan zaman. Hanya sebuah harapan ingin hidup maju, yang membuatnya tetap semangat menjalani semua keterbatasan itu. Meski terkadang ia ragu, namun langkahnya tetap tegap menapaki ketakmenentuan nasibnya.
“Koq melamun Mas, ada yang diingat yah?” suara Mardi membuyarkan lamunan sesaatku, “jadi mau ziarah ke makam Ibu?”
“Iya, masuk di gang itu, sebelah ATM Mandiri,” kataku seraya menunjuk sebuah jalan kecil di sisi jalan ini.

Namanya Pemakaman Tedeng, dulu tempat beristirahatnya salah satu pengawal Sunan Gunung Jati yakni Pangeran Tedeng. Daerah ini sudah sejak lama di waqafkan oleh pemiliknya untuk pemakaman umum. Beberapa penduduk kota Cirebon memang memanfaatkan daerah ini selain puluhan pemakaman umum lainnya, seperti Pangeran Drajat, Pronggol, Kesambi, Tangkil, dan Kesunean.

Ibu disemayamkan di TPU Tedeng lima belas tahun yang lalu. Ia harus merelakan seluruh semangat dan hidupnya untukku, untuk kami anak-anaknya, ketika penyakit levernya lebih ganas dari yang pernah kami bayangkan. Ada rasa sesal yang tak pernah lekang dihati ini, ketika kuingat belum banyak yang dapat kuberikan untuk Ibu.
“Yaa Allah, ampunilah dosa dan kesalahan Ibu hamba, terimalah ia sebagaimana Engkau terima orang-orang yang Kau kehendaki. Sayangilah ia sebagaimana ia telah menyayangiku. Lapangkanlah kuburnya Yaa Allah, mudahkanlah hisabnya Yaa Allah….” Kuusap wajahku dengan kedua tangan ini. Kurasakan bulir bening hangat menggenang di pipiku. Perlahan, kutaburkan bunga-bunga yang telah kurendam air sejak semalam. Harapanku, air bunga ini dapat memberikan kesejukan sebagaimana doa yang kupanjatkan untuknya.

Tak berapa lama akupun meninggalkan kompleks pemakaman ini, aku berusaha melupakan segala kesedihan dan penyesalanku yang telah lama terpendam selama ini. Setidaknya setelah lima belas tahun itu , rasa sedih dan piluku akan kepergiaannya memang masih begitu lekat di hati ini. Dan setelah lima belas tahun itu pula, aku akan mencoba menutupi semua rasa itu dengan menunaikan sebuah janji pada ibuku.

“Saya Deni Sastranegara, silahkan duduk Pak…” seorang customer service dengan ramah menjabat tanganku, “ada yang bisa kami bantu Pak?”
“Saya Harist, el Harist. Saya ingin menyetorkan BPIH untuk tahun ini, bagaimana caranya?”
“Ooh, begini Pak. Untuk dapat menyetorkan pembayaran minimal BPIH, Bapak diharuskan membuka rekening tabungan haji terlebih dahulu. Kemudian Bapak dapat menyetorkannya melalui tabungan tersebut,” kata petugas CSO yang terlihat lebih muda dariku.
“Apa itu berarti setelahnya saya telah resmi sebagai calhaj, Mas?” tanyaku agak ragu.
“Benar Pak, karena dengan setoran minimal itu, secara resmi pihak kami akan meregristrasikan nama Bapak sebagai calhaj ke instansi penyelenggara haji pusat yakni Departemena Agama Pusat.”

“Setelah itu, kapan saya mendapatkan kursi dan kloter haji, Mas Deni?” aku begitu semangat dengan informasi penyelenggaraan haji ini.
“Begini Pak Harist, setoran minimal Bapak memang secara otomatis telah memberikan kepastian bagi Bapak untuk menjadi calon jemaah haji. Akan tetapi mengenai kepastian berangkat dan kelompok terbangnya, masih menunggu keputusan daftar tetap dari Departemen Agama setelah diurutkan sesuai dengan pendaftaran. Jadi, semakin cepat Bapak mendaftarkan dan menyetorkan ongkos minimalnya akan semakin memungkinkan Bapak mendapat kepastian berangkat,” lelaki muda ini menerangkan begitu panjang. Sepertinya sudah sangat ia kuasai sekali. “Bisa difahami, Pak?”
Aku mengangguk perlahan mewakili jawaban mengertiku.

“Kalau Bapak sudah bisa memahami, silahkan Bapak mengisi formulir aplikasi untuk pembukaan rekening tabungan haji Bapak. Bagaimana?”
“Baiklah kalau begitu,” kataku seraya menarik formulir yang sejak tadi sudah siap di hadapanku. Dengan seksama akupun mulai mengisi formulir aplikasi tabungan haji ini, hati-hati sekali. Entah karena aku begitu semangat atau memang rasa bahagia yang tak bisa kusembunyikan, petugas CSO ini nampak serius memperhatikanku dengan senyum simpulnya.

“Saya melihat Bapak begitu gembira dan bersemangat sekali,” begitu kata petugas CSO ini akhirnya. Sebagian besar dari mereka memang begitu ketika melayani para nasabah, mungkin ini yang membuat instansi swasta selalu lebih unggul secara kualitas dibandingkan kami yang duduk di instansi pemerintah. Mereka begitu serius dan konsentrasi terhadap job discriptionnya. Atau minimal standar pelayanan bagi konsumen yang mereka jalankan seutuhnya.
“Saya sudah menunggu saat-saat seperti ini selama lima belas tahun, Mas,” kataku mencoba menganggapi, “betapa besar kebahagiaan dan kegembiraan yang tengah saya rasakan.”

“Saya sering menemui nasabah seperti Bapak, khususnya untuk urusan yang satu ini. Dan saya sangat memaklumi perasaan bahagia dan gembira mereka,” petugas CSO ini tersenyum simpul seolah ikut hadir dalam kebahagiaan yang tengah aku rasakan. “Apalagi untuk sebuah penantian selama lima belas tahun.”
Aku menghentikan tarikan penaku, sesaat kutatap wajah lelaki muda ini. Kalimat terakhir yang terucap itu seolah semakin meyakinkan bahwa aku memang telah melewati lima belas waktu menunggu. Aku telah melewati begitu panjang penantian untuk dapat memenuhi sebuah jani yang tertangguh.

“Maaf,” lelaki muda ini tiba-tiba merasa bersalah dengan ucapannya sendiri.
“Oh ngga, ngga apa-apa! Mas Deni benar, saya memang telah menunggu dan menantikan hal ini selama lima belas tahun. Kalimat Mas Deni yang terakhir itu seolah mengingatkan dan meyakinkan saya bahwa saya benar-benar telah melewati masa penantian ini…”

Senyum kembali mengembang di wajah pemuda berpenampilan bersih ini. Sikapnya yang supel dan begitu ‘care’ pada para nasabah, membuatku benar-benar berharga sebagai seorang nasabah. Saya sendiri sebetulnya tidak peduli dengan sikapnya, apakah itu tulus dari hatinya atau hanya sekedar memenuhi tuntutan tugasnya. Yang jelas aku memang sedang bahagia. Rasanya aku ingin membagikan rasa itu kepada siapapun, aku juga ingin semua orang tahu kalau sebentar lagi aku mampu memenuhi janjiku.

“Pak Harist berangkat sendiri?”
“Iya,” jawabku seraya mengangguk, “sebetulnya saya ingin sekali berangkat dengan istri saya, Mas. Akan tetapi selain memang tabungan saya hanya cukup untuk satu orang, kami baru saja dikaruniai anak kedua. Dia masih terlalu kecil kalau harus kami tinggalkan…”

“Mudah-mudahan istri Pak Harist dapat segera menyusul, Pak.”
“Terima kasih, Mas. Dan semoga Allah juga memberikan izin-Nya untuk saya berhaji,” kataku perlahan penuh harap.
“Memang kata yang sudah berangkat, keinginan untuk kembali ke tanah suci itu begitu besar, Pak Harist. Tapi wajibnya khan sebenarnya cuma sekali dalam umur kita…”
“Benar Mas, tapi keberangkatan saya kali ini bukan untuk saya pribadi.”
Lelaki muda ini agak bingung, ekspresi wajahnya terlihat berubah, “memang Pak Harist melaksanakan haji untuk siapa?”

“Untuk sebuah janji yang telah terpendam selama lima belas tahun, Mas,” kataku serius, “sebuah janji yang tak pernah saya bayangkan akan dapat saya tepati di posisi saya yang hanya pegawai negeri.”
“Maksud Pak Harist?”
“Untuk Ibu saya, saya dulu pernah berjanji untuk memberangkatkanya. Saya berjanji untuk tidak menikah sebelum mampu mengumpulkan ongkos, ibadah haji Ibu, yang sebetulnya sangat mustahil untuk kami yang kurang mampu.” Sesaat aku menarik nafas, mencoba meredakan gemuruh rasa yang ada di hati ini. “Hanya saja saya belum mampu memenuhi janji itu ketika Ibu lebih dahulu dipanggil menghadap-Nya.”
“Jadi, maksud Pak Harist, perjalanan haji Bapak kali ini diniatkan untuk ibu Bapak?” tanya petugas CSO ini kembali.

Aku mengangguk. Dengan senyum tersimpul di bibir ini. Puas sekali rasanya, bisa melampiaskan apa yang terpendam dihati ini.
“Saya yakin, ibu Pak Harist bangga dan bahagia sekali.”
“Saya berharap begitu.”

Tak ada lagi percakapan setelah itu. Setelah kuselesaikan semua persyaratan administrasi, akupun kembali melanjutkan perjalanan pulang ke rumah tua peninggalan almarhumah ibu. Di sebuah perkampungan pesisir, di pinggiran Kota Udang. Tinggal Mbak Tini yang ada di sana. Semua kakak-kakaku sudah berkeluarga dan tinggal terpisah, hanya Mbak Tini yang sengaja kami harapkan untuk tetap tinggal dan mengurus rumah kenangan kami ketika ia kembali dari Padang.

Aku sendiri memutuskan untuk tinggal di rumah tua ini, selama pengurusan pendaftaran ibadah haji. Banyak kenangan di rumah petak berukuran 54 meter persegi ini. Aku lahir dan besar di sini, begitu juga keenam saudara-saudaraku. Oleh karena itu aku merasakan ada ikatan yang kuat antara aku dan rumah sempit ini. Itu pula yang membuatku terkadang berkhayal ingin merenovasi kembali rumah ini menjadi lebih layak tinggal, setidaknya agar semua kenangan yang pernah ada tidak lekang dari ingatan kami. Namun entah kapan, semoga Allah memberikan izin dan rezeki-Nya untukku.

“Dapat izin berapa hari, Rist?” Tanya Mbak Tini seraya menyodorkan teh manis kesukaanku.
“Cuma dua hari, Mbak. Makanya kalau semua ini selesai hari ini, besok pagi atau nanti malam saya langsung kembali ke Banten. Banyak tugas yang harus Harist selesaikan di sana,” kataku menjelaskan.
“Istri dan anak-anakmu siapa yang menemani?”

“Ada Bapak dan Ibu Mertua, kebetulan sedang berlibur di Serang sejak tiga hari yang lalu. Oleh karena itu, Harist bisa mengurus pendaftaran ibadah haji di sini.”
“Kenapa tidak di Serang saja, Mang?” Upi Wulandari yang anak bungsu Mbak Tini turut bertanya.
“Mamang sih, inginnya begitu. Tapi selain di Serang sudah tutup kuotanya, Mbak Atin ingin Mamang ikut jemaah haji dari sini. Katanya biar bisa untuk ajang ngumpul sekeluarga lagi,” aku menghirup teh manis yang masih panas ini perlahan, “kapan katanya Pakde (Bapakku) mau ke sini, Pi?”

“Entah Mang, katanya sih hari ini. Mungkin nanti sore…”
Aku tersenyum menanggapi jawaban keponakanku yang tahun ini lulus SMK itu. Selintas terbayang di benakku, wajah Bapak yang telah lama tak kutemui. Lebaran kemarin aku tak mudik ke Banjarnegara tempat Bapaku sekarang tinggal. Beliau memutuskan untuk tinggal di rumah peninggalan almarhumah nenek yang memang asli dari sana. Bapak lebih sering beristirahat di sana daripada berkumpul dengan kami anak-anaknya. Mungkin karena kami semua telah berkeluarga, jadi Bapak fikir tak mau merepotkan kami. Akan tetapi meski begitu, Bapak rajin kirim surat dan mengecek kami semua anak-anaknya. Beruntung teknologi bukan sesuatu yang mahal lagi sekarang, sehingga beberapa tahun terkahir ini kami terbiasa berhubungan dengan beliau cukup melalui sms atau obrolan singkat.

“Terus rencana selanjutnya bagaimana, Rist?”
“Katanya, Harist tinggal menunggu panggilan dari pihak bank atau Depag untuk jadwal persiapan manasik dan jadwal pemberangkatan. Mudah-mudahan semuanya lancar, ya Mbak.”
“Insya Allah, Rist. Semoga Allah memberikan izin-Nya untuk niatmu ini.”

Beberapa bulan kemudian panggilan itupun datang. Aku diharuskan menyetorkan kembali biaya kekurangan ibadah haji, setelah sebelumnya aku juga mengikuti rangkaian persyaratan administrasi lainnya. Setelah semuanya itu aku dan beberapa orang yang dinyatakan berhak dan akan berangkat haji tahun ini, dikumpulkan di Depag Kota Cirebon. Kami diberi pengarahan tentang apa dan bagaimana seharusnya melaksanakan ibadah haji yang baik dan benar. Beragam ilmu dan pengetahuan diajarkan kepada kami, mungkin sifatnya lebih meyakinkan dan memberi semangat kembali kepada kami tentang perjalanan sakral yang akan kami lalui.

Sejatinya ibadah haji memang tidak hanya dikarenakan mampu secara finansial, akan tetapi lebih dari semuanya itu dikarenakan kesiapan fisik dan kondisi bathin yang cukup sebagai modal pelengkap perjalanan. Ada beberapa hikmah yang disampaikan para pembimbing haji yang begitu lekat dihatiku. Mungkin itu pula yang makin meyakinkan setiap langkah kaki ini untuk menjadi tamu-Nya.

“Beberapa hikmah yang akan Bapak atau Ibu petik dari pelaksanaan ibadah haji adalah sebagai berikut ; 1. Haji merupakan manifestasi ketundukan dan kepatuhan kita kepada Allah SWT semata, ini ditandai dengan pakaian ihram yang akan Bapak-Ibu kenakan selama beribadah. Dengan berihram, kita semua dihadapkan pada kondisi kefakiran dan ketakmampuan kita di mata Allah, karena kita akan meninggalkan semua keindahan dan kesenangan duniawi.

2. Melaksanakan ibadah haji, pada hakekatnya merupakan ungkapan rasa syukur kita kepada Allah SWT, atas anugerah kesehatan dan kekayaan yang dititipkan pada kita. Dengan berhaji kita diharapkan dapat memaknai rasa syukur sepenuhnya dari hati kita.
3. Melaksanakan ibadah haji juga menempa jiwa juang kita, karena dalam melaksanakan ibadah ini kita dituntut untuk bisa bersabar, disiplin, berakhlak baik dan tentunya ketahanan fisik yang prima.

4. Selain hikmah tersebut di atas, ibadah haji juga akan membuat ukhuwah islamiyah dengan seluruh muslim di penjuru dunia menjadi erat. Disamping ibadah haji itu sendiri akan mampu menyimpan ketenangan di dalam hati kita.
Sampai di sini, faham semua Bapak-bapak dan Ibu-ibu?”

“Fahaam…!” suara para jemaah menciptakan koor dengan kekuatan penuh. Kekuatan yang makin memantapkan semangat menjalankan ibadah haji dan memenuhi panggilan-Nya.
Seperti para jamaah yang lain, aku juga dapat merasakan energi yang luar biasa yang membuatku makin yakin dengan keputusanku ini. Aku begitu menikmati setiap detil dari pra persiapan pelaksanaan ibadah haji ini. Hingga kemudian manasik haji yang membuat kami semua seolah telah berada di tanah haram, Makkah. Dari mulai ber-ihram, wukuf di Arafah, Thawaf ifadah, sa’i, bercukur, melaksanakan mabit di Muzdalifah dan Mina, melontar jumrah Ula, Wustha dan Aqobah, hingga berthawaf Wada’ sebagai syarat meninggalkan Makkah.

Begitu besar semangat yang ditunjukan oleh para calon jemaah siang itu, hingga akhir dari pelatihan manasik haji, suara kami tetap lantang menyuarakan talbiyah, sebagai rasa syukur kami akan panggilan Allah, panggilan yang agung bagi ujian spiritual kami….

“Aku datang memenuhi panggilan-Mu, Yaa Allah…
Aku datang memenuhi panggilan-Mu…
Aku datang memenuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu…
Aku datang memenuhi panggilan-Mu…
Sesungguhnya segala puji, nikmat
dan segenap kekuasaan adalah milik-Mu…
Tidak ada sekutu bagi-Mu…. “

%%%%%


Suasana senja ini menghening, sehening hatiku menyelesaikan persiapan terakhir dari manasik haji ini. Banyak bekal dan ketrampilan yang kudapat, seperti juga begitu banyak harap dan doa yang tercurah untuk langkah ikhlasku. Langit Kota Cirebon yang mulai menjingga seolah membawaku mahsyuk pada penghambaan dan pengharapanku pada-Nya, tentang apa yang telah kupersiapkan selama lima belas tahun terakhir ini.

”Alhamdulillah, yaa Allah...,” kuhembuskan nafasku perlahan, aku bisa tenang sekarang. ”Terima kasih yaa Allah, ternyata Engkau berikan anugerah dan kebahagiaan itu padaku. Engkau amanahkan rezki yang tak terputuskan untuku, untuk anak-anak dan istriku, serta untuk sebuah janji yang telah terpendam selama ini. Sebuah janji yang menjadi semangat dan kekuatan kami…

Sementara itu desiran angin penghantar maghrib mulai kurasakan sejuknya, sesejuk alunan syair ‘Haji’-nya Opick yang menghanyutkan sanubariku di perjalanan pulang.

Labaik Allah humma Labbaik
Labbaik alla syarrikallaka Labbaik
Innalhamda Walnikmatallah..
Walmulk alaa syarri kallaa…
Wahai Allah, kami datang memenuhi panggilan-Mu,
Tiadalah sekutu untuk-Mu,
Sgala puji dan pasrahku untuk-Mu,
Kami meraba tanpa cahaya,
Hati yang luka, hina dan papa…
Di hadapan-Mu yang Maha Indah
Di hadapan-Mu yang Maha Mulya…

Air mataku tertumpah sudah, merasakan keharuan yang paling dalam dari serpihan nurani ini. Menantikan terpenuhinya sebuah janji, sebuah janji dari serpihan nurani..
“….izinkan aku ber-ihram untuk ibuku, Yaa Allah…”

Serang, 7 Maret 2008